BAGIKAN
Ketua Umum Kowani Dr Giwo Rubainto Wiyogo berpoto bersama Presiden RI Joko Widodo usai Penganugerahan Pahlawan Nasional antaranya usulan Kowani terhadap Pahlawan Aceh Laksamana Malahayati.

WANITAMEDAN.COM- Hari ini 10 November 2017 diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. “Sepantasnya Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), merasa sangat berbahagia, karena sudah menjadi inisiator ditetapkanya pahlawan perempuan asal Banda Aceh, Laksamana Malahayati,sebagai Pahlawan Nasional.Puji syukur kepada Allah SWT akhirnya usulan Pahlawan Nasional Perempuan Laksamana Malahayati dapat terkabul sesuai dengan gagasan dan harapan Kowani sebagai inisiator,”kata Ketua Umum Kowani,Dr Giwo Rubianto Wiyogo, Kamis(9/11).

Dijelaskanya, ringkasan global tentang proses usulan Pahlawan Nasional Perempuan Laksamana Malahayati sekaligus menggambarkan keterlibatan beberapa stake holder dalam sukses story pengusulan tersebut.
Indonesia salah satu negara merdeka yang direbut dengan nyawa dan darah jutaan para syuhada,yang mampu merebut kemerdekaannya dari penjajah yang kejam lalim dan rakus, setelah melalui rangkaian panjang perjuangan dan berliku-liku, yang dapat dipastikan telah mengorbankan nyawa jutaan para patriot kesatria, pejuang sejati, mereka tidak pernah memiliki pamrih dan minta dibalas jasa-jasa mereka. Mereka berjuang untuk memperoleh hak hakiki dan martabat sebagai insan ciptaan Tuhan memiliki Hak Fundamental yaitu,hak untuk hidup, Hak untuk tidak disiksa, Hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, Hak beragama. Hak untuk tidak diperbudak, Hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan Hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.

Apapun cara mereka meninggal, dan siapapun mereka, serta darimana asal usul mereka, bagi saya mereka adalah pahlawan sejati, sayang sekali didalam perjalanan waktu lahirlah prosesi dan prosedur pemasangan atribut pahlawan tersebut.
“Salah satuya adalah pahlawan nasional meskipun tata cara penetapannya mengundang debatable tapi apa hendak dikata diulang tahun ke 72 RI kita mencatat jumlah pahlawan nasional kurang dari 170 orang, jumlah yang sangat sedikit
“Ada hipotesis dan adigium yang beredar sebagaimana para dermawan sejati yang tidak mau dicatat sebagai dermawan, bisa jadi demikian pula dengan para pahlawan, dalam hal ini keluarganya juga enggan meng klaim diri sebagai keluarga pahlawan apalagi dengan birokrasi yang rumit.

Jika hal ini terjadi betapa kita menjadi bangsa
yang sangat tidak mampu menghargai jasa para pahlawannya, karena pastilah pada era perjuang kepahlawanan tidak dilaksanakan kegiatan administrasi sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki peradaban yang jauh lebih tinggi daripada kita. Bisa jadi kultur kita yang lebih humble dan tidak ingin menunjukkan perbuatan baik yang ditandai oleh beberapa motto misalnya “Rame ing wage, sepi ing pamrih” atau “jika tangan kanan memberi hendaknya tangan kiri tak perlu tahu” atau beberapa alasan-alasan yang belum kita pahami dan dengan keterbatasan kemampuan forensic biologi dan forensic sejarah, sulit dipercaya bahwa negara yang merdeka dengan nyawa dan darah hanya mampu mencatat 169 pahlawan nasional di ulangtahunnya yang ke 72.
Lebih aneh lagi hanya ada 12 pahlawan nasional perempuan padahal perjuangan perempuan yang jika diambil dan ditandai dari berdirinya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sudah ada dan telah berjuang bersama-sama dengan laki-laki sejah tahun 1928.

“Semoga setelah Kowani menjadi inisiator Pahlawan Nasional Laksamana Kemalahayati, akan banyak lagi inisiator Pahlawan Nasional lainnya,termasuk Pahlawan Perempuan. Selamat Hari Pahlawan Nasional,”paparnya(WM01)