by

Ada Wisudawan Terbaik di Wisuda Daring UINSU , Rektor Berpesan Jangan Cukup di Ijazah Saja

Wanita Medan. com – Namanya Maya Rani Sinaga. Kehadirannya di aula Kampus II UINSU Jalan William Iskandar, Jumat (21/8- 2020) kemarin cukup mendatangkan tanda tanya besar . Mengapa Maya hadir lengkap dengan baju toganya ya?

Padahal saat itu sedang berlangsung  wisuda secara daring. Mahasiswa cukup dari rumah saja. Sementara Rektor UINSU Prof. Dr. Saidurrahman dan para wakil rektor hanya menatap layar monitor besar di depan mereka. Dengan menatap layar besar itu rektor bisa menyapa mahasiswanya yang ada di Sumut .Tak terkecuali kampung Maya Aek Noba Pekan, kabupaten Asahan.

Tapi  Maya  hadir langsung. Ada apa gerangan? Meski penuh tanda sepertinya orang di aula itu menyadari bahwa kehadiran Maya di wisuda ke 74 UINSU tersebut berkaitan dengan prestasinya.  Ya tepat sekali, Maya dan kedua orangtuanya diundang secara khusus oleh pihak rektorat karena prestasinya yang membanggakan. Mahasiswi Fakultas Tarbiyah ini lulus dengan IPK 3,96.

Bahkan kata Maya, di awal – awal studinya di UINSU , IPK nya selalu 4 koma sampai semester 8 kemarin pun masih 4. Dengan capaian tersebut cum laude jelas ditangannya. Jadi wajar, jika anak dari M. Sinaga dan Darmawati Harahap ini diundang khusus untuk diberikan ijazah yang nilainya A semua. Selamat ya Maya. Semoga cita – citamu menjadi guru dapat tercapai.

Sementara 473 lulusan UINSU yang lainnya diwisuda rektor secara daring. Kepada wisudawannya Rektor  UINSU Prof. Dr. Saidurrahman M. Ag mengatakan, ada dua hal penting  untuk menyiapkan mahasiswa dan alumni yang memiliki daya saing tinggi, yakni digitalisasi dan akreditasi.

Dua kebijakan tersebut mendapat perhatian lebih saat ini karena relevan dan kontekstual dengan suasana pandemi Covid 19 yang masih mengancam.

“Digitalisasi adalah jawaban yang paling tepat bagi perguruan Tinggi untuk tetap dapat bertahan di era pandemi. Seiring dengan amanah Menteri Agama RI Bapak Fakhrurrazi dalam wisuda kali ini, PTKIN harus mampu mengembangkan kreatifitas dan inovasinya. Tidak bisa bertahan kepada satu model pembelajaran saja,” kata rektor.

Rektor menambahkan, mahasiswa tidak boleh mencukupkan dirinya hanya dengan selembar ijazah dan transkip saja, tetapi harus membekali dirinya dengan beragam keterampilan yang akan memberi daya ungkit bagi alumni untuk memasuki dunia kerja.

“UINSU Medan sejak tahun 2016 telah menetapkan program unggulan yang dikenal dengan Tiga harga mati yang selanjutnya kita sempurnakan menjadi lima harga mati. Adapun lima harga mati tersebut adalah, Akreditasi, Digitalisasi, Internasionalisasi, Filantropi dan Pengembangan Bisnis. Hemat saya kelima kebijakan dasar ini memiliki keterkaitan yang kuat dengan penciptaan daya saing unggul untuk Indonesia maju di masa depan,” jelasnya.

Digitalisasi bukan sebatas penyediaan sarana dan prasarana belajar on line (daring), administrasi akademik yang menggunakan aplikasi Siakad, Portal Sia dan aplikasi lainnya, tetapi digitalisasi adalah syarat mutlak bagi sebuah kampus yang ingin mewujud menjadi smart campus.

Smart campus menjadi penting untuk menunjukkan kesiapan sebuah Universitas untuk dapat bertumbuh dan berkembang di era disruptip atau dalam istilah lain era masyarakat 4.0.

“Penting untuk dipahami, smart campus bukan dalam arti sebuah kampus di mana di dalamnya terdapat mahasiswa yang smart (cerdas) atau dosen-dosen dan tenaga kependidikan yang cerdas (smart),” ujarnya.

Smart campus adalah kampus yang mencerdaskan mahasiswanya disebabkan oleh IT yang dikelola oleh kampus tersebut. Bahkan smart campus adalah konsekuensi logis dari keberadaan teknologi digital atau teknologi internet yang saat ini semakin massif.

“Agaknya tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa smart campus adalah sebuah Universitas atau kampus yang senantiasa, memadukan, mengkombinasikan, menggabungkan dan mengimplementasikan proses belajar mengajar dengan menggunakan teknologi informasi. Sehingga semua sistem yang menunjang proses belajar mengajar juga menggunakan teknologi internet,” katanya.

Di dalam Smart Campus terdapat dan mengacu pada fasilitas-fasilitas yang mendukung semua kegiatan sivitas akademika dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi dengan teknologi informasi sebagai tulang punggung pendukung. Pada akhirnya, implementasi teknologi smart campus secara miniatur akhirnya muncul dalam smart class-room, smart laboratory, smart bulding, smart department atau smart faculty.

“Di masa mendatang, bisa saja terjadi, kelas-kelas fisik tidak lagi menjadi penentu bagi terselenggaranya sebuah proses pendidikan dan pengajaran. Kehadiran smart class room berhasil mengisi dan mengatasi kekurangan kelas yang selama ini banyak dikeluhkan PT di Indonesia,” jelas rektor.

Demikian juga dengan keberadaan smart library, perlahan namun pastii akan menggeser fungsi-fungsi perpustakaan konvensional dengan koleksi-koleksi buku langka.

“UINSU Medan harus segera merespon perkembangan tersebut tentu saja bukan sebatas pengekor atau pengikut, tetapi harus mampu mengembangkan teknologi smart campusnya. Dalam hal ini tentu saja diperlukan inovasi dan kreatifitas serta etos digital bagi seluruh sivitas akademika UINSU Medan,” harapnya.

Sementara kaitannya dengan akreditasi, Prof Saidurrahman menyebutkan sudah dicanangkan 4 tahun lalu, di masa mendatang akan mendapatkan perhatian yang lebih serius.

“Kita tidak dapat berleha-leha di sini, apa lagi memandangnya remeh. Kita tidak cukup berpuas hanya dengan akreditasi sangat baik atau B saja. Melainkan kita harus memperoleh akreditasi unggul untuk semua prodi. Semua pimpinan Fakultas dan pengelola program studi serta dosen dan mahasiswa harus memiliki kesadaran yang sama akan pentingnya akreditasi,” ungkapnya.

Kegagalan program studi dalam meraih akreditasi terbaiknya, cukup menjadi bukti bahwa pengelolanya tidak cakap mengoperasionalkan program studi sebagai ujug tombak sebuah Universitas.

“Saya ingin menegaskan mengapa akreditasi kita di BAN PT atau di LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri) harus baik ? Jawabnya, akreditasi nasional adalah jembatan kita untuk mencapai akreditasi terbaik dari lembaga internasional. Oleh karena itu, di masa mendatang, pengawasan kita akan semakin ketat, termasuk pendayagunaan anggaran harus diarahkan pada pemenuhan kreteria akreditasi yang telah ditetapkan BAN PT ataupun LAM. Kita tentu tidak ingin mendengar alasan, kegagalan akreditasi disebabkan masalah dana,” tegasnya.

Apalagi semua wisudawan UINSU dalam dua tahun terakhir ini, lahir dari semua program studi yang telah terakreditasi, sebagiannya dengan predikat unggul, sebagian besar baik sekali dan beberapa di antaranya baik. Akreditasi ini akan menjadi tolok ukur kita untuk memastikan alumni kita memiliki daya saing tinggi di level nasional dan internasional.

Rektor Prof Saidurrahman mengatakan untuk sementara waktu, disebabkan Pandemi Covid 19, rencana untuk melaksanakan pendidikan berbasis Ma’had terpaksa ditunda.

“Keselamatan dan kesehatan mahasiswa baru, bagi kami adalah priorotas. Namun di masa mendatang, jika pandemi ini berakhir, Program Ma’had akan tetap kita selenggarakan. Terlebih-lebih Menteri Agama telah memberikan apresiasinya dan mendukung secara penuh pendidikan berbasis ma’had,” sebutnya.

Peningkatan  kemampuan bahasa asing, Arab dan Inggris, Tahfiz dan tahsin Al-Qur’an serta pembangunan karakter mahasiswa, yang telah ditekankan kembali oleh Menteri Agama dalam sambutannya dan telah kita dengar bersama, akan tetap menjadi acuan dan fokus kita di masa mendatang.

Adapun 474 lulusan UIN SU yang tersebar dalam 8 fakultas serta 1 Program Pascasarjana yakni ; Fakultas Dakwah dan Komunikasi: 31 Orang. Fakultas Syariah dan Hukum: 40 orang.Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan: 230 orang.Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam: 5 orang.Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam:74 orang.Fakultas Ilmu Sosial. 9 orang.Fakultas Kesehatan Masyarakat: 16 orang. Fakultas Sains dan Teknologi: 26 orang.Program Pascasarjana:19 orang. ( evi)

Berita Terbaru