Wanita Medan.com – Setiap mendengar kata Pelakor (Perebut Laki Orang) aku suka senyum-senyum sendiri. Karena aku sendiri… nyaris jadi pelakor. Setiap kali aku mengingat kisahku ini.Ada kerinduan yang menyergap hulu hatiku. Aku ingin sekali jumpa denganmu bang.Aku memanggilnya bang, karena usianya memang jauh di atas aku.

Seperti apa wajahnya sekarang, masih bisa kubayangkan. Rambut lurusnya, pasti sudah ditumbuhi uban. Tapi aku ragu hal itu, dulu ketika usianya menjelang 40 tahun saat kisah itu kita mulai, tak satupun uban di rambutnya. Karena rambutnya begitu sehat halus tidak kasar. Kata orang rambut dengan tekstur halus lama tumbuh uban. Tak seperti rambutku yang sudah banyak ditumbuhi uban karena tekstur rambutku yang kasar dan kering.

Tapi aku tak siap untuk bertemu dengannya, karena hanya akan membuat hatiku sakit. Pernah suatu saat, bang San demikian aku memanggilnya menelepon aku. Dia ingin bicara katanya. Tapi setelah kutunggu, dia hanya bicara singkat. Dari ucapannya aku menyimpulkan dia tak bahagia.

Balik lagi ke kisahku. Kisah kami ini benar-benar unik. Bagaimana tak unik, kami berdua bukan orang sembarangan. Kami berdua mempunyai karir bagus yang menuntut berhadapan dengan orang banyak. Itu salah satu yang menyebabkan, kisah kami ini tak sampai ketujuan, karena kami sama-sama tak ingin jadi gunjingan publik. Kisahku ini benar-benar senyap, suka dan duka yang kami alami benar-benar abadi.

Biarlah kisah kita ini abadi, seperti lagunya Sheila On 7 ” Sephia. Lagu itu, seperti lagu kebangsaan bagi kami. Entah mengapa lagu itu begitu persis dengan yang kami alami. “Oh sephia…malam ini ku tak pulang, Selamat tidur kekasih gelapku semoga cepat kau lupakan aku. Kakasihmu tak sanggup meninggalkanmu”… bla, bla, bla

Berarti sudah tahukan, tahun berapa aku jadi Sephia, ya diakhir tahun 1999 menjelang 2000. Sebenarnya, berat bagiku membongkar duka lama ini. Karena kisah ini begitu memilukan bagiku. Kisah ini hanya berjalan setahun, tapi cukup meninggalkan kesan mendalam bagiku. Meski salah, tapi aku yakinkan aku bahagia. Bahagia di atas penderitaan seorang perempuan beranak 4. Kejam, kan aku!

Rajam aku, hina aku, caci aku, maki aku, kalau kalian sanggup bunuh aku. Aku tak peduli… yang penting aku bahagia. Sekarang aku pastikan, seperti itulah yang dirasakan para pelakor itu. Pelakor tak pernah peduli dengan apapun di sekitarnya. Karena dia berada dipusaran bahagia tertingginya. Persis seperti aku, kala itu. Tapi, aku tak berani jadi pelakor sejati.. aku tak punya nyali, aku takut, aku malu… kisahku diketahui orang. Hanya beberapa orang saja yang tahu termasuk ibuku dan temanku yang mensuportku, namun aku tahu setengah hati karena dia tahu yang kulakukan itu salah.

Tapi aku bahagia, bagaimana aku tak bahagia, bang San mencintai aku. Semua, pernah kami lakukan bersama. Kami pernah menangis bersama-sama, tertawa, bercanda… dan bercinta. Perbedaan usia 10 tahun apa itu yang membuat dia menyayangi aku entahlah..

Namun semua berakhir juga, ketika aku meninggalkan gelanggang karena suatu dan lain hal. Setelah tak bersama-sama dalam satu tempat aku dengar dia berselingkuh dengan perempuan jauh dibawahku dan kawin dengan perempuan itu.

Semua akan kuceritakan pada kalian dengan harapan kalian bisa mengambil pelajaran dari kisahku ini.( evi)

Loading...