by

Ame: Ketekunan dan Kesabaran Pasti Berbuah Manis

Ame, dengan menu kulinernya yang sederhana namun beromset besar. ( evi)

Wanita Medan .com – Di Jalan Balai Desa, Kec. Patumbak, sebelum Jalan Martabe ada sebuah lapangan sepak bola yang lumayan terawat rapi.

Di depan lapangan sepak bola berjajar lapak- lapak pedagang kaki lima. Sayang lapak berukuran sekira 3×2 meter ini banyak yang kosong .

Menurut pedagang yang masih bertahan, untuk mendapatkan lapak tersebut harus membayar Rp 2 juta.

Tapi karena pembeli sedikit,ditambah pemodalan yang kurang menjadi penyebab pedagang tak mampu bertahan hingga banyak lapak yang kosong dan terlantar begitu saja.

Dari sekian baris lapak yang sudah tutup, ada satu pedagang kuliner yang masih bertahan dan eksis hingga saat ini.

Disinilah Ame dulu berjualan

Sebenarnya, dia berjualan disitu sudah sejak lama, mungkin 4 tahunan. Tapi di pinggir lapangan sepak bola, bukan di lapak yang baru dibuat.

Begitu lapak itu dibangun, Fajar Melati, demikian nama pedagang kuliner ini, langsung mengambil salah satu lapak, persis di depan tempatnya berjualan.

Lumayanlah, sedikit banyak Ame, panggilan sehari hari Fajar Melati, terhindar dari panas dan hujan.

Dengan stelling sederhana, terbuat dari plastik kaca, Ame gigih menjemput rezekinya.

Kuliner yang dijual Ame khusus menu sarapan saja seperti, lontong, lupis dan cenil. Sederhana saja.

Ini lontong Ame yang istimewa

Tapi begitu pembeli mengenal dan mencicipi lontong Ame. Pasti ketagihan dan akan balik lagi.

Kesederhanaan penampilan menu kuliner yang disuguhkan Ame dijalaninya sampai bertahun – tahun dan penuh ketabahan.

Dia berprinsip kesabaran dan ketekunan suatu saat pasti membuahkan hasil.

Terbukti dari yang hanya beromset puluhan ribu, kini dia mampu meraup keuntungan hingga ratusan ribu atau hampir 100 persen.

Sejalan dengan dagangannya yang makin laris, kini Ame mampu membangun istana kecilnya dan mencukupi semua kebutuhan hidupnya.

“Alhamdulillah lah, kak. Dari berjualan lontong awak udah bisa merehab rumah, punya kenderaan sendiri. Cukuplah kak,” kata Ame.

Sekilas memang tak ada istimewanya kuliner yang ditawarkan Ame, bahkan cenderung sederhana sekali jika dibanding kan pedagang sejenis yang ada di sepanjang Jalan Balai Desa pasar 12 .

Tapi, mengapa dagangan Ame yang laris dan banyak pembelinya.Bayangkan saja, buka jam 9.00 teng pembeli sudah berjajar di depan stellingnya. Belum lagi hari Minggu, Ame sampai tak bisa bernafas harus melayani pembelinya.

Usut punya usut keistimewaan lain yang dimiliki Ame tak lain karena keramahtamahannya pada semua orang tak peduli tua muda,besar, kecil semua disapa dengan sayang.

Kecil disayang, besar dihormati. Wajar jika lontong Ame jam 12.00 ludes semua.

Pembeli yang sudah menunggu lontong Ame.

Kalau sudah habis Ame pun siap – siap berbenah. Pulang ke rumahnya Jalan Bunga. Untuk urusan angkat mengangkat dia serahkan sepenuhnya pada “asistennya”.

” Biarlah kak, repot kali awak kalau angkat sendiri apalagi waktu pagi. Biarlah , biar berbagi ,” kata cewek manis, murah senyum ini.

Tiba di rumah, bukan berarti Ame bisa leha – leha. Ame harus bekerja lagi untuk mempersiapkan dagangan esok hari.

Ame harus merebus 3 kg beras selama 4 jam dan 2 kg untuk lupis.

Namun Ame pintar, dia mampu mengatur ritme kerjanya agar tak terlalu letih.

Dia tak mau setiap hari merebus beras untuk dibuat lontong. Cukup sekali saja tapi bisa untuk 2 – 3 hari.

Yang dibuat Ame tauco, gulai dan mie saja setiap hari karena dua jenis makanan ini cepat basi.

Nah, bayangkan Ame masih bisa bercengkrama dengan saudara- saudaranya atau bercanda dengan temannya, tapi pekerjaannya terselesaikan, income-nya juga semakin bertambah.Dengan ritme kerja seperti itu wajar kalau Ame tak berambisi memperbesar usahanya.

” Ame tak punya ambisi muluk – muluk kak, cukup seperti ini saja Ame sudah cukup. Yang penting berkah Ame sudah bersyukur kali kak,” kata Ame menutup pembicaraannya dengan wanita medan.com. Semoga menjadi berkah Ame. ( evi)

Berita Terbaru