Wanita Medan. com –  Kejadian ini terjadi saat Forum Masyarakat Literasi Indonesia Sumut (FMLSU) mengadakan seminar setengah hari di sebuah hotel di Medan, Selasa (20/3-2018).

Adalah Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumatera Utara Ferlin H Nainggolan  saat menjadi narasumber pada kegiatan itu, bertanya pada peserta yang hadir. Yang berasal dari daerah. Saat ditanya soal wajib belajar 9 – 12 tahun. Jawaban yang diberikan para guru yang kebetulan menjadi peserta cukup beragam ada 9 dan ada 12 tahun.

Padahal guru adalah garda terdepan literasi. Tapi waktu ditanya soal wajib belajar dan UU sistem pendidikan jawaban yang diberikan tak satu pun satu suara. Yang menurun Ferlin kalau jawaban beragam itu artinya ragu-ragu. Benar- benar jeblok tapi kalau ngerumpi nomor satu, dengan dalih silaturrahmi.

Ferlin Nainggolan mengatakan, perpustakaan diselenggarakan seumur hidup, demokratis, keadilan , keprofesionalan, keterbukaan, kerukunan dan kemitraan. ” Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut juga punya peran sebagai pusat informasi bagi masyarakat,’ kata Ferlin.

Ferlin menambahkan, ledakan informasi akibat kemajuan teknologi informasi telah mengubah paradigma masyarakat menjadi konsumtif terhadap informasi. Disisi lain kemudahan dalam mengakses informasi terkadang membawa dampak negatif terhadap masyarakat khususnya generasi muda.

Ferlin yang juga menjadi narasumber bertutur soal budaya baca yang ternyata sudah masuk dalam sistem pendidikan di Indonesia .Dia juga melihat  fenomena menghukum di sekolah. Anak di hukum dengan pergi ke perpustakaan. ” Hukuman seperti Itu tak benar, perpustakaan bukan tempat hukuman, ke perpustakaan itu harus nyaman untuk tempat membaca, menulis dan berwisata baca bukan sebagai tempat hukuman,” kata Ferlin seraya menjelaskan pelayanan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut.

Ferlin mengisahkan hasil survei, mahasiswa Jepang harus sudah membaca 200  500 judul buku yang dibaca setelah wisuda, berbeda dengan Indonesia yang mahasiswanya hanya membaca buku belum cukup 200 judul buku.

Ferlin juga mengingatkan, kepada peserta untuk berhati-hati memberi anak alat komunikasi seperti handphone karena banyak konten negatif seperti hoax atau juga gambar-gambar porno yang belum bisa dilihat anak dibawah umur. Kepada peserta Ferlin banyak bergurau, terutama beda zaman now dan old, sehingga peserta antusias dengan paparannya. Sayangnya 60 persen para guru yang hadir  literasinya sangat jeblok. (wm.02)

 

 

Loading...