by

Ayam Penyet Tak Tuntuang,Tampilkan Rasa Istimewa Ditengah Persaingan

Wanita Medan. com – Muda, energik, tampan. Sosok seperti ini biasanya cocok untuk jadi artis sinetron. Jadi pengusaha, juga sah- sah saja. Bahkan, mungkin mendatangkan keuntungan yang berlipat. Apalagi menjadi pengusaha kuliner.

Bidang usaha yang kini banyak digandrungi anak muda. Selain pasarnya jelas, keuntungannya juga menggiurkan. Tinggal bagaimana memanagednya saja. Usaha kuliner seperti inilah yang tengah dilakoni Harry Dahlansyah . Menjadi pengusaha muda di usia 27 tahun.

Usaha yang dilakoni Harry atau Ary demikian dirinya  biasa dipanggil, usaha kuliner . Usaha paling digandrungi masyarakat saat ini. Ayam  penyet atau geprek. Usaha ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Tak sulit mendapatkannya, tinggal bagaimana membuat keiistimewaan dan perbedaan sehingga dicari orang.

Inilah yang tengah dilakoni Harry saat ini. ” Sebenar Ary ga sengaja usaha ayam geprek. Ary lihat, usaha ini laku ditambah Ary juga suka memasak. Ya, udah Ary coba,” ujarnya saat ditemui di kedai ayam gepreknya Jalan Bromo tepat disamping Universitas Terbuka.

Untuk nama ayam gepreknya, Ary memilih nama yang mudah diingat, unik dan mencirikan asal kedaerahan Ary sendiri yakni Sumatera Barat. Maka dipilihlah nama “Ayam Penyet Geprek Tak Tuntuang” Entah lokasinya di kawasan orang Minang, bisa juga demikian.

Dengan nama Tak Tuntuang Ary membuka ayam penyetnya sekitar bulan Februari 2019 lalu. Berjalan tiga bulan joint dengan adik sendiri Ary buka kali dengan nama yang sama. Sekarang sudah 6 usaha ayam geprek Ary yang tersebar di beberapa tempat. seperti di Sukaramai, Jalan Rakyat, Jalan Denai, Marindal, dan Patumbak bersebelahan dengan Polsek Patumbak.

Kenapa Ary begitu yakin dengan ayam gepreknya? ” Ya berani saja, Ary pikir nama boleh sama tapi rasakan berbeda. Ary yakin dengan ayam penyet Ary karena sambalnya Ary yang buat sendiri,” ujarnya .

Apa yang dikatakan Ary ternyata tak pepesan kosong belaka, ketika Wanita Medan menyambangi ayam geprek Ary yang berada di Jalan Bromo, hmmmm … rasanya memang sangat nikmat.Istimewanya terletak pada sambalnya. Ada yang merah ada yang ijo tergantung selera.

Saat menikmtinya hmmm….enak Ta….sambel merah diulek- ulek dengan nasi panas ditambah sayur kol atau terong…hmmmm yamiii….Sampai suapan terakhir rasanya tak ingin lepas.Benar – benar khasanah bumbu nusantara.

Pantas saja banyak konsumen yang datang. Yang rata- rata membeli lebih dari dua kotak. Ayam penyet dibuka jam 11 dan ditutup jam 11 malam. Kenapa sampai malam? Justru di malam hari pembeli makin banyak terutama pelanggan yang mengorder melalui ojek online. Sejak Ary menjalin kerjasama dengan ojol khusus makanan ini permintaan pelanggan nyaris tak terlayani.

Nah, yang ini Ary dan karyawannya.

“Itu sebabnya Ary minta karyawan jangan ada yang off di saat sibuk . Jika di siang hari mereka boleh bergantian, kalau malam hari harus full karena banyak permintaan,” jelas Ary disamping pelanggan yang makan di tempat.

Tak heran, jika belum genap setahun Ary berani membuka cabang ayam penyet Tak Tuntuang di beberapa tempat. “Teori yang Ary terapkan biasa saja, jika ayam bisa habis 20 kg dalam satu hari berarti ada keuntungan. Meski tak besar- besar kali tapi cukuplah membayar gaji karyawan dan disimpan sedikit untuk menambah modal,” kata Ary.(evi)

 

Berita Terbaru