Wakil Ketua DPD Darmayanti Lubis bersama caleg perempuan

Wanita Medan.com –  Calon legislatif terutama kaum  perempuan banyak yang tak mengerti  soal berkampanye di media cetak maupun  elektronik. Ketidaktahuan itu lebih disebabkan, sikap kehati-hatian perempuan menggelontorkan dana jutaan rupiah untuk berkampanye ditambah banyak tata cara yang diatur KPU untuk berkampanye .

Demikian salah satu kesimpulan yang mengemuka saat Kaukus Perempuan Sumut mengadakan dialog dengan caleg perempuan dengan tema Pengaturan Iklan Kampanye Pemilu 2019″ menghadirkan narasumber Nuning Rodiyah dari Komiis Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat di Garuda Plaza Hotel, Sabtu (9/3/2019).

Hadir juga disitu wakil ketua DPD Darmayanti Lubis, Ketua Kaukus Perempuan Sumut Nurhasanah dan puluhan caleg perempuan dari berbagai partai peserta pemilu.

Nuning Rodiyah menyebutkan, selain “sayang” mengeluarkan uang secara besar-besaran caleg perempuan juga tak mengerti kemana harus beriklan dan bagaimana aturannya. “Mereka hanya mengandalkan tim sukses saja, tanpa tahu berkampanye itu efektif atau tidak,” kata Nuning.

Nuning mengakui 96 % media televisi adalah cara berkampanye paling efektif. Tapi untuk caleg daerah ini akan terasa sulit. Karena KPU hanya menyediakan 10 spot selama 21 hari untuk 30 detik masing-masing partai mengkampanyekan calegnya.

“Untuk caleg DPR RI dan DPD, TV nasional khususnya swasta memang efektif tapi caleg provinsi, kabupaten, kota KPU tak mengkampanyekannya. Oleh karena itu caleg propinsi, kabupaten, kota media televisi dan radio adalah cara efektif mengiklankan diri. Rate keduaa media elektronik ini jauh-jauh lebih murah ketimbang televisi swasta,” papar Nuning.

Untuk mensiasati hal tersebut Nuning sedikit berbagi tips untuk berkampanye. “Pilihlah media yang banyak peminatnya, untuk daerah TVRI dan RRI masih dominan. Cek berapa harpa per spotnya, kedua sering bermain di media sosial, facebook instagram maupun twitter. Baru kemudian tingkatkan kapasitas diri, jangan membicarakan program yang aneh-aneh, tapi pilihlah program yang real dan mudah menjalankannya sehingga ketika ditanya menjawabnya lebih pasti dan gampang.

Kemudian jangan beriklan di media sosial yang tak ada peminatnya, pilih media yang sudah terkenal, kalau di Jakarta detik.com dan radio Sonora banyak peminatnya,” kata Nuning.

Saat ditanya masalah iklan Grace Natalia dan Perindo yang disebut iklan seumur hidup. Nuning menjelaskan KPI pernah melayangkan surat ke KPU dan Bawaslu terkait iklan Grace Natalie (PSI) namun oleh KPU dan Bawaslu hal itu bukan kampanye melainkan citra diri. “Nah kami mau bilang apa Grace lolos karena tak ada visi dan misi, logo, apalagi nomor partai. Sedangkan lagu Perindo yang lebih terkenal dari Indonesia Raya, KPI juga pernah melayangkan surat ke MNC Grup. Oleh MNC dibawalah ke ranah hukum, saat di PTUN kan, kami kalah karena waktu itu Perindo bukan peserta pemilu. Makanya saat itu Perindo disebut ormas bukan parpol. Baru pada 18 Februari 2018 setelah kepesertaan parpol di KPU lolos verifikasi, baru Perindo dinyatakan sebaai partai politik,” jelas Nuning seraya menyebutkan masa kampanye di mulai 24 Maret hingga 14 – 16 April 2019 (minggu tenang) .(evi)

 

 

Loading...