dr. Natassha Bianca S

Wanita Medan .com – MIMPI yang terwujud.Begitu disampaikan dr.Natassha Bianca S,23,Selas 21 Mei 2019  setelah keluar dari Auditorium USU, usai mengikuti prosesi wisuda dari Fakultas Kedokteran. “Akhirnya impian ini terwujud, sejak Sekolah Dasar bercita-cita menjadi dokter,”kata dr.Natassha Bianca yang meraih IPK,3.55 kemarin.

Karena impiannya tercapai itulah dia memotivasi pelajar yang sudah lulus Sekolah Menengah Atas Sederajat, agar melanjutkan impian memasuki Perguruan Tinggi sesuai keinginan, seraya minta restu dan doa orang tua serta giat belajar agar semua impian tercapai.

“Itu yang saya lakukan sejak Sekolah Dasar yang sudah  bercita-cita menjadi dokter,”katanya.

Dia memaparkan, untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran memang tidak mudah. Namun, kata lulusan SMAN 1 Medan ini, kesungguhan dalam meraih impian adalah belajar dan belajar. Kutu buku sudah pasti ,sambung Natassha yang tercatat sebagai pianis ini.Karenanya selama 3.5 tahun menempuh pendidikan dan masa Koas selama dua tahun, semakin menguatkan hatinya menjadi seorang dokter.

“Dari SD kalau ditanya memang pingin jadi dokter. alasannya, pingin aja bisa jadi dokter yang bermanfaat buat orang banyak. bisa membantu orang untuk lebih sehat dan menjaga kesehatan, akhirnya keinginan jadi dokter gak berubah sampai lulus SMA. tetap tertariknya ke kedokteran,”katanya.

Saat ditanya apa judul karya ilmiah yang dia pilih sebelum proses kuliahnya selesai,dara berhijab ini menyebutkan bahwa, judul Karya Tulis Ilmiah (KTI) “Hubungan nilai monosit dengan tingkat keparahan penyakit pada pasien Infark Miokard Akut (IMA) yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode 1 Januari 2013 – 30 Desember 2015. Sebab,kata dia,

Bersama Ibunda dan Rektor USU Runtung Sitepu

Koasnya mayoritas berpusat di RSUP Haji Adam Malik Medan. Walaupun ada beberapa stase luar yang mengharuskan mereka di rumah sakit lain seperti RSUD Pirngadi, RS Haji, RS TK II Puteri Hijau, RS Prof. Ildrem, tapi dalam waktu yang singkat aja seperti beberapa minggu.

“Pengalaman saat koas itu salah satu pengalaman yang paling tidak terlupakan. Karena semua ilmu yang dipelajari saat pre-klinis/kuliah, bukti nyata nya ada di saat koas. Kami Koas bisa melihat langsung berbagai jenis penyakit yang ada & bagaimana tatalaksana nya. Kami juga dibimbing oleh konsulen ahli masing-masing bidang tentang pasien yang ada. Di akhir stase kami akan diuji oleh konsulen dengan membawa kasus dari pasien yang ada di bangsal. Belum lagi dengan jadwal jaga yang banyak yang harus kami hadapi, rasanya hari-hari memang lebih banyak di rumah sakit daripada di rumah sendiri. Tapi Koas punya pembelajaran sendiri untuk kami dan itu cukup berkesan,”paparnya.(Anum Saskia)

Loading...