Wanita Medan.com – Tanggal 19 November 2019 Universitas Islam Sumatera Utara genap berusia 46 tahun. Usia berdasarkan keinginan terdalam umat Islam Sumatera Utara khususnya para ulama, akan hadirnya sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Islam (Universitas Islam) yang diharapkan dapat melahirkan ulama-intelektual dan intelektual ulama.

Titik balik itu terjadi tahun 2014 dengan terbitnya Peraturan Presiden RI no 131/2014 tanggal 16 0ktober 2014″ tentang alihstatus IAIN menjadi UINSU.

Perlahan tapi pasti, IAINSU terus bertumbuh dan berkembang, dengan keberadaan empat Fakultasnya; Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dakwah. Yang membahagiakan keempat fakultas tersebut sangat diminati oleh masyarakat tidak saja di Sumatera Utara tetapi juga disekitarnya .Seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau dan lainnya. Sepetak tanah yang berada Jln. Sutomo berubah menjadi Medan ilmu bagi seluruh mahasiswa, berkumpulnya para ulama dan ilmuwan yang bersungguh dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dirasah islamiyyah.

Itulah bagian pidato Rektor UINSU Prof.Dr. Saidurrahman M.Ag Menyongsong Dies Natalis UINSU ke 46 -( 19 Novemver 1973 – 19 November 2019), pada wartawan di kampus II UINSU Jalan Williem Iskandar Medan Estate, Selasa (15/10 – 2019).

Hadir  juga Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan Prof Dr Syafaruddin MPd, Kepala Biro AUPK Dr H Tohar Bayoangin M.Ag, para dekan dan kepala bagian serta Kahumas Yunni Salma.

Para petinggi UINSU yang mendampingi Rektor salah satunya Tohar Bayo Angin

Rektor mengungkapkan, IAINSU yang selama ini hanya diberi kewenangan untuk mengelola ilmu-ilmu agama saja, diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu sains dasar dan rumpun ilmu kesehatan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) adalah fakultas baru yang menandai alih status tersebut.

FEBI ini juga lahir sebagai bentuk penghargaan Pemerintah terhadap IAINSU yang selama ini bersungguh dalam pengembangan ekonomi Islam. Selanjutnya, atas dasar peraturan presiden itu pula, lahir Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Saat ini UINSU memiliki 8 Fakultas, 54 Program Studi dan Satu Program Pasca Sarjana yang mengasuh S2 dan S3.

“Tantangan yang dihadapi UINSU pasca alih status tidaklah ringan. Perubahan IAINSU menjadi UINSU bukan hanya berubah dari sisi kelembagaan, melainkan lebih dari itu perubahan harus menyentuh hal-hal yang lebih substantif, layaknya sebuah perguruan tinggi yang terkemuka di dunia,” ungkap Rektor.

Wartawan juga mendukung UINSU menuju Juara.

Saat TGS Prof. Dr. Saidurrahman dilantik menjadi Rektor UINSU pada tanggal 31 Agustus 2016 melalui SK Menteri Agama Nomor B.II/3/11604, tantangan terbesar yang dihadapi oleh Rektor adalah bagaimana mewujudkan UINSU menjadi universitas yang Juara, maju, unggul, jaya, raya dan sejahtera.

“UINSU tidak lagi boleh menjadi universitas apa adanya. Universitas yang rasa institut atau rasa Sekolah tinggi. Namun lebih dari itu, UINSU harus tampil sebagai universitas yang membanggakan bukan saja oleh sivitas akademika UINSU tetapi juga oleh umat ini. Mimpi UINSU adalah menjadi Universitas kelas dunia World Class University pada tahun 2045 seiring dengan 100 Tahun Indonesia emas,” tegas Rektor.

Setelah membaca, menela’ah, mengkaji dan menganalisis secara mendalam. Rektor menilai ada beberapa masalah yang harus segera diselesaikan. Pertama, Persoalan akreditasi Institusi dan Program Studi. Akreditasi IAIN-UINSU dengan prediket C menjadi beban tersendiri bagi UINSU. Demikian juga dengan beberapa prodi yang masih terakreditasi C. Kedua, Persoalan sarana dan prasarana. Ketiga, Kepercayaan diri dan motivasi untuk bangkit.

“Tiga masalah ini menjadi prioritas saya. Melalui kerja keras  dengan seluruh pimpinan dan sivitas akademika UINSU, tiga masalah tersebut dapat diatasi dengan baik. Untuk yang pertama, Setelah melakukan reakreditasi Institusi, IAIN yang semula akreditasinya C meningkat menjadi B. Dua tahun mendatang, Akreditasi itu akan meningkat menjadi A atau unggul. Beberapa prodi juga telah berhasil meningkat menjadi B.

Kaitan dengan Sarana dan Prasarana, UINSU bekerja keras agar penambahan sarana dan prasarana seiring dengan perkembangan fakultas-fakultas, segera terealisasi. Keberhasilan UINSU dalam hal sarana prasaran ini terbukti dengan realisasi pembangunan 7 gedung IDB di Tuntutngan yang diharapkan pada tahun 2020 sudah bisa digunakan. Selesainya pembangunan gedung Fakultas Ilmu Sosial 4 lantai), Realisasi  SBSN I dalam bentuk gedung Kuliah bersama enam tingkat seharga Rp. 45 M dan saat ini sedang dalam proses penyelesaian. Selanjutnya gedung kuliah yang bersumber dari SBSN tahap II dalam bentuk gedung kuliah 3 Tingkat seharga 40 M. Keberadaan gedung kuliah dan laboratorium ini diharapkan dapat menjawab problem besar UIN selama ini dalam hal sarana dan prasaran. Demikian juga dengan pembangunan wisma Syari’ah di Jalan Sutomo Medan,” jelas Rektor.

Rektor yang ahli orator ini juga mengungkapkan kebersungguhnya untuk mencari pendanaan dari pihak luar, baik dari dunia internasional ataupun dari lokal. Untuk internasional UINSU memperoleh bantuan IDB sekira 264 M dan Bantuan Arab Saudi untuk pembangunan Gedung Pusat bahasa sebesar 8 M. Sedangkan dari dalam negeri, UINSU menerima bantuan dari Ketua Dewan Penyantun H. Anif sebesar 10 M, Gedung H. Ijek sebesar 2M , Propinsi Sumatera Utara dalam bentuk bangunan Wisma Syari’ah sebesar 2 M. Demikian juga dengan bantuan Walikota Medan dalam bentuk upaya sertifikasi tanah Sutomo.

Salah satu bentuk pertanggungjawaban terhadap negara dan publik, dalam tiga tahun berjalan, Laporan keuangan UINSU pada tahun 2016, 2017, 2018, oleh BPK telah dinyatakan clear . Insya Allah pada tahun 2019 yang sedang berjalan, UINSU bertekad untuk mempertahankan keberhasilan pelaporan keuangannya agar tetap clear.

Setelah menyelesaikan dua masalah besar tersebut, UINSU di bawah Pimpinan Tgs. Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag mulai merumuskan tiga kebijakan besar yang disebut dengan tiga harga mati yang selanjutnya menjadi dasar bagi pembangunan UINSU juara di masa depan. Tiga kebijakan itu adalah, 1). Akreditasi. 2). Digitalisasi. 3). Internasionalisasi.

Pertama, Akreditasi. Kondisi objektif UINSU saat ini adalah, akreditasi Institusi berhasil menjadi B. Ada sejumlah Prodi yang sudah berhasil mencapai predikat A dan selebihnya masih B. Kebijakan akreditasi ini menuntut paling lama tiga mendatang, 85 % akreditasi Prodi harus mencapai predikat unggul (A) dan selebihnya Baik Sekali (B). Tantangan itu tentu tidak mudah tetapi bukan tidak mungkin untuk diwujudkan. Beberapa langkah yang disiapkan untuk mencapai kondisi tersebut.

(1). Dari sisi pendidikan dan pengajaran, profesionalitas dosen harus ditingkatkan. Penggunaan tekhnologi digital-internet seperti e learning harus dimaksimalkan. Dan tidak kalah pentingnya dukungan sarana dan prasarana belajar dengan menggunakan peralatan modern.

(2).Dalam bidang penelitian, mendorong seluruh dosen UINSU untuk melakukan penelitian baik dengan memanfaatkan dana BOPTN ataupun dengan berkompetisi dana hibah. Tidak sampai disitu, setiap penelitian, karya tersebut harus di HAKI kan dan juga harus dipublikasikan.  Sampai saat in, UINSU telah memilik sejumlah sertifkat HAKI. Dengan sejumlah buku yang berasal dari hasil penelitian. Lebih penting dari itu, beberapa artikel telah pula diterbitkan di dalam jurnal ilmiah Q1 ataupun yang terindeks sinta. Pada masa mendatang kontribusi UINSU dalam pengembangan ilmu pengetahuan akan terus ditingkatkan.

Rektor saat diwawancarai wartawan.

Satu hal yang membanggakan, dosen UINSU sangat produktif dalam melahirkan karya-karya ilmiah. Karya-karya tersebut telah diterbitkan oleh penerbit nasional yang sudah memiliki reputasi terbaiknya. Sampai saat ini –paling tidak 3 tahun  terakhir- Dosen UINSU telah berhasil menerbitkan lebih kurang 200 judul buku, baik dalam bentuk buku ajar, buku referensi ataupun modul kuliah. Produktifitas dosen UINSU dan kepedulian UINSU dalam bidang literasi, maka pada tahun 2018, UINSU menerima penghargaan dari IKAPI sebagai Perguruan Tinggi perduli perbukuan. Penghargaan itu diserahkan dalam rangka Pekan Ilmiah dan Book Fair.

(3). Dalam hal pengabdian, UINSU mengembangkan model pengabdian masyarakat baik dalam bentuk KKN ataupun dalam penerapan tekhnologi tepat guna. Sebagai contoh, UINSU mengembangkan model akuntansi keuangan masjid yang dipakai di masjid baik di Medan, Binjai dan daerah lainnya. UINSU juga telah melakukan berbagai macam pendidikan dan pelatihan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat. UINSU juga telah berhasil membangun tradisi kepedulian dengan masyarakat yang kurang mampu, miskin dan dhu’afa, melalui tebar hewan qurban yang setiap tahun mencapai angka 38 Ekor sapi. Pada tahun-tahun mendatang, UINSU telah memprogramkan untuk meningkatkan jangkauan pengabdiannya ke daerah terdalam. Diperkirakan tahun mendatang ditargetkan 50 -60 hewan qurban dapat dibagi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kurang mampu.

Kedua, Dalam konteks digitalisasi, UINSU menerapkan kebijakan bahwa semua data yang berkaitan dengan Tridharma Perguruan Tinggi sudah harus dilakukan digitalisasi. Menyikapi hal ini, UINSU telah memiliki 31 aplikasi yang terintegrasi di semua unit. Aplikasi ini mencakup Sistem Akademik dan Kemahasiswaan, Sistem Kepegawaian, Sistem Keuangan dan Aset, Alumni Karier, Sistem Kuliah Kerja Online, Aplikasi Pusat Pengembangan Bisnis yang  juga mampu meningkatkan semangat kewirausahaan civitas UINSU Medan.  Agar digitalisasi berjalan baik, UIN menyediakan berbagai perangkat infrastruktur teknologi informasi seperti Data Center, jaringan Fiber Optic, WIFI dan tentunya dukungan bandwidth internet untuk semua gedung di lingkungan UINSU Medan.

3). Dalam Hal Internasionalisasi, UIN menerapkan kebijakan pentingnya membangun jaringan dan kerjasama dengan seluruh perguruan tinggi ternama di dunia. Terdapat beberapa negara yang saat ini sudah bekerjasama dengan UIN yaitu, Arab Saudi, Amerika, Eropa dan Asia. Tidaklah mengherankan dalam bentuk kerjasama dengan luar negeri, UINSU berada diperingkat nomor 2 di bawah UIN Jakarta. Di samping itu, dalam rangka internasionalisasi, UIN mengharuskan dosen-dosennya untuk dapat mempresentasekan penelitiannya di forum-forum internasional di luar negeri serta menerbitkan artikelnya di jurnal yang bereputasi internasional.

Selanjutnya untuk meningkatkan performa UINSU sebagai universitas Islam Negeri yang juara, maka UINSU harus menetapkan distingsinya sekaligus yang menjadi keunggulannya. Adapun distingsi UINSU adalah dalam bidang Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam baik dari sisi teoritik ataupun praktik. Sampai di sini keberadaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam menjadi sangat penting dan niscaya. Keberhasilan UINSU menjadikan Ekonomi Islam sebagai keunggulan bukan saja terlihat dari akreditasi Prodi Ekonomi Islam yang berhasil meraih A, juga pengakuan yang diberikan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI). UINSU telah mendapatkan dua penghargaan dari IAEI Pusat yaitu Sebagai Kampus Ekonomi Islam Terdepan (Silaknas, Jakarta 27-28 Juli 2017). Kedua, Piagam Penghargaan yang diberikan kepada Rektor UINSU Tgs. Prof. Saidurrahman, M. Ag sebagai Tokoh Pendidikan Ekonomi Islam Pengembangan Bea Siswa Zakat pada penghargaan IAEI Award tahun 2019 di Jakarta.

Di samping itu, dalam pengembangan praktik ekonomi Islam, UINSU telah menjadi rujukan dalam penerapan bea siswa zakat terhadap mahasiswa yang tidak mampu. Dalam waktu dua tahun, UINSU berhasil mengumpulkan dana zakat sebesar Rp. 3 Miliar dan membantu lebih kurang 1500 mahasiswa miskin dan tidak mampu. Saat ini UINSU juga mengembangkan dana wakaf sebagai sumber dana abadi umat dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia UINSU.

UINSU juga telah mencapai dua Rekor MURI yang sesungguhnya terjemahan dari  kepedulian UINSU untuk menciptakan lulusan yang berkarakter, berintegritas, beriman dan berakhlak mulia. Adapun dua Rekor MURI tersebut adalah, Pada tahun 2018, UINSU menerima Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia dalam bidang Khatam Al-Qur’an oleh Mahasiswa Terbanyak. Penghargaan ini diberikan pada tanggal 29 Agustus 2018. Penghargaan kedua oelh Museum Rekor Dunia Indonesia adalah, Mahasiswa Pewakif Terbanyak, yang diberikan pada tanggal 2 September 2019. Keduanya diserahkan pada acara Pengenalan Budaya Akademik Kampus.

Sebagai Universitas Islam Negeri yang kontribusinya diharapkan dalam pembangunan bangsa dan negara, terutama dalam upaya pencegahan radikalisasi, anti korupsi dan penguatan dan pengamalan Pancasila, UINSU juga telah membentuk beberapa lembaga. Pertama, Pusat Kajain Strategis Deradikalisasi (PUKAT) UINSU. Lembaga ini berkiprah untuk menanamkan nilai-nilai toleransi (tasamuh), ukhuwah wathaniyyah dan insaniyyah yang diharapkan sebagai terjemahan dari Islam Rahmatan li al-alamin. Kedua, Pusat

Kajian Anti Korupsi (PUSAKO), yang bergerak dalam penanaman nilai-nilai integritas terhadap sivitas akademika UINSU. Ketiga, Lembaga Kajian Pancasila dan Kebangsaan (LKPK-UINSU). Lembaga ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai Pancasila dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak kalah pentingnya, lembaga ini juga berkiprah dalam penguatan nasionalisme kebangsaan. Keempat, Lembaga Kajian Kebangsaan dan Keummatan (LK3). Lembaga ini bergerak dalam mensosialisasikan nilai-nilai kehidupan bersama dalam bingkai NKRI. Kelima,  Lembaga Peace and Human Rights, yang konsisten menyebarkan nilai-nilai perdamaian dalam kehidupan bernegara.

Untuk menopang gerakan Deradikalisasi, Anti Korupsi, penguatan kebangsaan dan peneguhan perdamaian, UINSU telah menghadirkan banyak tokoh. Diantaranya adalah Bapak Abdullah Hahemahua, (Penasehat KPK), Dr. Irfan Idris (Direktur Pencegahan BNPT), Zulkifli Hasan (Ketua MPR), Mahfud MD (Ketua MK), M. Natsir (Menristek), Prof. Mark R. Woodward dari Arizona State University USA, Ibu Lili Pinta Uli Siregar ( Anggota KPK) dan masih banyak tokoh lainnya.

Khusus untuk penguatan deradikalisasi, anti korupsi dan anti narkotika ditingkat mahasiswa, pada penghujung tahun ini UINSU akan membentuk komunitas-komunitas mahasiswa yang bergiat dalam gerakan deradikalisasi, anti narkotik dan anti korupsi. Dengan hadirnya komunitas-komunitas ini diharapkan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, dan perdamaian akan lebih membumi dan dapat diterapkan dalam kehidupan kampus.

Pada tahun akademik 2020, UINSU akan melakukan terobosan baru dalam rangka meningkatkan kualitas dan kapasitas Mahasiswa UINSU. Metode yang dikembangkan UINSU adalah Pembelajaran berbasis Ma’had Jami’ah. Seluruh mahasiswa UINSU yang berjumlah 7000 orang, pada tahun pertama akan diasramakan (Ma’had) dengan menerapkan model pembelajaran pesantren. Ada tiga wilayah yang mendapatkan penguatan melalui Ma’had. 1). Penguatan bahasa Arab dan Inggris baik pada dimensi pemahaman teks –teks sains dan agama ataupun dalam komunikasi. 2). Penguatan dalam bidang Tahfiz (menghafal) dan  Tahsin (Penghalusan bacaan Al-Qur’an). 3). Penguatan pemahaman Islam Washatiyyah, Moderasi Beragama dan nilai-nilai Kebangsaan.  Tiga kekuatan ini akan menjadi fondasi yang kuat bagi mahasiswa UINSU untuk mengembangkan talentanya di masa-masa yang akan datang.

Mutu mahasiswa dan mutu alumni menjadi fokus UINSU. Oleh karena itu, penguatan lulusan dari sisi karakter, kompetensi ilmu dan skill, adalah hal terpenting dalam pengelolaan perguruan tinggi. Oleh karena itu, seluruh proses pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian harus bermuara pada peningkatan lulusan UINSU.

Mahasiswa UINSU memiliki kemampuan yang luar biasa. Hal ini ditunjukkan dengan capaian prestasi di tingkat nasional dan internasional. Seperti, juara I pada Musabaqah Tahfidz Qur’an Se-Asia Fasifik di Jakarta, menjuarai kompetensi Fotografi se-Asean di Penang Malaysia, sebagai Juara III dalam ajang Seoul International Invantion Fair 2018 di Korea dengan penemuan obat diabetes berbahan buncis, meraih medali perak di ajang Thailand Investor’s Day 2019 yang diikuti lebih dari 29 Negara di Dunia. Mahasiswa FKM juga menjadi juara III Kompetisi Inovasi Indonesia One Health University Networks  (INDOHUM) tahun 2019. Baru-baru ini mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi juga menyabet Medali Emas sebagai Young Award dalam World Invention Competition Exhibition 2019 di Malaysia, dan masih banyak prestasi lainnya yang telah ditorehkan mahasiswa UIN SU.

“Saat ini UINSU sedang bekerja keras untuk mencapai prestasi terbaiknya. Segala kemampuan dikerahkan untuk mencapai tujuan UINSU Juara. Segala sumber daya yang ada juga dikerahkan untuk pencapaian target yang telah ditetapkan, akreditasi A (unggul), program digitalisasi yang harus tuntas tahun 2020. Serta pembuktian internasionalisasi. Jika tiga harga mati ini berhasil diwujudkan pada tahun 2020, pada tahun 2020-2024 UINSU akan menjadi Juara dalam makna yang sebenarnya. Aamiin.(evi)

Loading...