.Wanita Medan.com – “Jadilah jurnalis yang punya empati,” kata Uni Lubis dihadapan 30 orang anggota Forum Jurnalis Perempuan (FJP) Sumut saat digelar Pelatihan Tentang Isu – Isu Gender dan Anak dalam Pemberitaan bagi SDM  Media di Medan Rabu( 14/8-2019)

Pelatihan tersebut kerjasama Kementeriaan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) , PWI Pusat dan Dinas PPPA Sumut berlangsung dua hari 14 – 15 Agustus 2019 di hotel Mercure Medan.

Kata Uni, perspektif gender masih terlihat abu- abu dalam media terutama  newsroom (ruang redaksi) suara perempuan tak selalu terdengar. “Entah karena minoritas atau tak pede menyuarakan pendapatnya, perspektif gender dalam pemberitaan menjadi sangat tipis,” kata Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia ini.

Padahal mereka pintar.”Yang harapkan speak up (berbicara) agar kebenaran terungkap dan perempuan punya posisi tawar yang bagus,” kata pimred IDN Times ini.

Bagi yang tak bekerja di media, pemikiran perspektif gender bisa disa!urkan melalui gambar dan vidio yang diunduh di media sosial. “Jadi masih ada celah untuk terus keep up dalam hal perspektif gender,” kata Uni dalam penjabarannya perspektif gender yang bisa diisi oleh perempuan.

Sedangkan pada level legislatif amat disayangkan anggota legislatif perempuan  kebanyakan warisan. Suami pejabat istri anggota dewan, atau suami anggota dewan sebelumnya sekarang istrinya. ” Dengan situasi ini mereka jarang menyuarakan aspirasi perempuan.Kitalah yang harus memanfaatkannya. Pakai mereka untuk mampu mengeluarkan perda ataupun kebijakan yang berperspektif gender ,” kata Uni.

Bagian lain Uni juga berpesan jangan ogah ditugaskan di wilayah konflik. “Kalau mau mencari aman, jadi “wartawan salon” mungkin jadi pilihan. Tapi sensasinya tak ada. Kalau di daerah konflik kita banyak menemukan cerita dan kisah- kisah yang berperspektif gender. Kalau keselamatan serahkan pada Yang Kuasa, sedangkan perlindungan lainnya beck up dari perusahaan tempat kita bekerja, ” kata Uni seraya menceritakan pengalamannya bertemu korban tsunami seorang Polwan bernama Elviana. Kisah itu dicurahkan Ubi di online miliknya Uni Lubis.com.

Tanpa perspektif gender dalam meliput bencana misalnya, jurnalis akan fokus hanya kepada melaporkan kebutuhan makanan yang biasanya dijawab dengan memasok beras mie instan dan pakaian bekas, padahal perempuan dan anak-anak di pengungsian memerlukan lebih dari itu, hal-hal yang spesifik.

“Kalau masalahnya kembali lagi dengan kantor untuk urusan bisnis, maka wartawan bisa mencari orang atau tokoh yang disegani untuk menyampaikan hal ini. Mungkin bisa dari kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memberikan edukasi. Makanya penting ada pelatihan-pelatihan isu gender untuk jurnalis, pimred khususnya yang laki-laki, karena memang dunia pers masih dikuasai oleh laki-laki,” katanya.

Sebelumnya Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumut Nurlela, MAP mengucapkan terimakasih karena Kementerian PPPA mau mengucurkan dana untuk program ini di Sumut. ” Semoga masih ada lagi dana – dana pelatihan seperti ini sehingga kerja Dinas PPPA dapat terbantu, katanya sekaligus membuka pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini. Selain Uni Lubis narasumber lainnya dari PWI Pusat, Kamsul Hasan dari Dewan Pers yang membahas masalah Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dan juga delik- delik aduan dalam UU pokok pers. (evi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Loading...