by

Kenapa Anak Lebih Suka Diajari Orang Lain Ketimbang Orang Tuanya?

Wanita Medan. com – Ada satu hal yang menjadi tantangan saat anak memasuki usia sekolah. Ya, kamu akan mengajari anak belajar saat ia mau ujian ataupun ketika ada pekerjaan rumah (PR)!

Kendati sudah berusaha mengajari anak semaksimal mungkin dengan versi kamu, tetap saja si kecil susah mengerti. Tak tanggung-tanggung, ekspresinya pun selalu bingung dan nilainya juga jadi kurang oke!

Karena takut nilainya semakin “jeblok”,kamu membiarkan anak ikut diskusi belajar di rumah temannya. Di sana, yang mengajari adalah orang tua dari teman anak.

Kamu pun sampai berusaha memanggil guru privat jika ada bahan ujian dan PR yang terlampau sulit.

Untungnya, beragam usaha tersebut membuah hasil. Si anak jauh lebih mengerti dan nilainya membaik.

Menanggapi kasus anak yang lebih susah diajari oleh orang tuanya sendiri ketimbang orang lain, begini penjelasan Gracia Ivonika, M. Psi., Psikolog.

Menurutnya, kondisi seperti itu berkaitan dengan pendekatan antara orang tua ke anak dan orang lain/guru ke anak. Meski begitu, tujuan pendekatannya tak berbeda, ya, yakni sama-sama mengajari anak.

“Guru punya kelebihan dalam ilmu dan kemampuan memberikan pengajaran yang pastinya berguna secara spesifik untuk membantu anak belajar. Sedangkan, tidak semua orang tua memahaminya dengan baik,” jelasnya.

Psikolog yang kerap disapa Ivon itu menambahkan, “Perbedaan lain yang mendasari adalah relasi orang tua ke anak yang berbeda dari relasi guru ke anak. Relasi orang tua dan anak lebih melibatkan emosi tentunya.”

Perbedaan relasi ini akan memengaruhi proses belajar mengajar dan bagaimana anak menangkap informasi dari yang dijelaskan oleh orang tua atau guru.

“Orang tua punya ekspektasi dan harapan tersendiri kepada anak. Alhasil, itu memengaruhi cara orang tua dalam mengajarkan anak. Orang tua juga lebih leluasa untuk memberikan respons kepada anak. Misalnya, jika anak cukup lama atau susah mengerti, orang tua mungkin lebih mudah marah atau kecewa karena adanya ekspektasi terhadap anak,” jelas psikolog Ivon.

Atas dasar itulah beberapa anak justru takut dan sering menangis ketika diajari oleh ibu atau bapaknya sendiri.

Daripada dimarahi, lebih baik iya-iya saja dan pura-pura mengerti! Saat mempraktikkannya di sekolah, dia pun kesulitan karena sebenarnya belum paham.

Jika bicara soal dampaknya, ternyata hal itu tidak bisa digeneralisasikan. Kita perlu melihat dulu pola pengajaran seperti apa yang diberikan orang tua saat di rumah dan karakteristik si anak sendiri.

“Namun, banyak juga kasus yang pada akhirnya membuat si anak memiliki trauma tertentu. Mereka jadi low self esteem (rendah diri/minder), kurang punya motivasi. Salah satu hal yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah karena anak memiliki pengalaman belajar yang buruk, termasuk pengalaman saat diajari orang tuanya sendiri” kata psikolog Ivon.

Tak cuma itu, apa yang dilakukan orang tua akan diserap oleh anak sehingga di masa depan, dirinya berpotensi melakukan hal serupa. Misalnya, orang tua mengajari anak sambil marah-marah.

Di kemudian hari, saat dia sudah dewasa dan punya anak, dia pun berpotensi membentak anaknya juga saat belajar.

Psikolog Gracia Ivon berpendapat, anak memang meniru dari lingkungan terdekat, serta penghayatan anak terhadap pengalaman masa kecilnya.

Untungnya ada beragam cara agar anak tetap bisa menganggap kau (orang tua) sebagai guru terbaik. Adapun cara-cara yang direkomendasikan oleh psikolog, antara lain:

Diskusikan dengan Anak

Tak ada solusi jika tak dikomunikasikan. Cari tahu sumber kesulitannya. Apa yang bikin anak tidak mengerti setiap diajari oleh Anda? Minta saran dari anak juga tidak ada salahnya, lho, untuk kebaikan bersama.

Cari Gaya Belajar yang Paling Sesuai dengan Anak

Jangan lupa juga untuk memberi kesempatan anak belajar sesuai dengan gaya belajarnya.

Jika anak lebih suka belajar lewat suara atau visual, maka jangan paksa ia untuk belajar dari tulisan saja.

Gaya belajar diskusi dan lewat video bisa jadi solusinya. Lalu, andaikan si anak lebih suka membuat mind map atau poin-poin daripada kalimat, maka tak ada salahnya belajar dengan gaya seperti itu.

Apabila si anak lebih suka menulis dan belajar di buku tanpa garis dengan berbagai spidol warna atau sticky note, jangan mengkritiknya. Ingat dan pahamilah bahwa anak punya cara survive-nya masing-masing.

Cek Apakah Ada Gangguan?

Orang tua perlu peka terhadap kesulitan belajar anak. Jika kesulitan menghadapi hal ini, sebaiknya berkonsultasilah kepada psikolog dan dokter anak.

“Terdapat gangguan yang disebabkan oleh faktor biologis, tapi baru terdeteksi setelah anak mulai sekolah. Misalnya disleksia, diskalkulia, dan ADHD. Banyak pula anak yang kesulitan mencapai performa yang memuaskan karena IQ di bawah rata-rata. IQ anak mencapai rata-rata, tetapi disekolahkan di sekolah yang menerapkan level advance,” jelasnya.

Sangat dipahami bahwa mengajari anak belajar itu bukan perkara mudah. Kendati demikian, semua hal di atas perlu disadari orang tua jika ingin si kecil tetap berkembang maksimal.

Posisikan sejenak diri kamu sebagai seorang anak. Ya, dulu kamu pernah merasakannya, bukan?

Jadi, pakailah sudut pandang tersebut agar relasi dan pendekatan belajar menjadi lebih baik.( evi/ wm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru