by

Kurang Pendanaan Jangan Turunkan Kualitas

Wanita Medan.com – Apa yang menjadi kendala produk usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga tak mampu bertahan dalam persaingan usaha? Yaitu, pada permodalan, persaingan produk, itu yang sering dikeluhkan para UKM, termasuk mereka yang memproduksi sepatu dan sandal.

Tapi kendala tersebut dimentahkan Nurdalmi, usahawan sepatu yang juga mulai aktif melakukan pelatihan bagi remaja di bidang pembuatan sepatu, dalam naungan UKM Center Sumut. Bahwa usaha sepatu yang telah dirintisnya sejak tahun 1990, bisa bertahan walau belumlah menjadi suatu usaha yang berkembang pesat. Kuncinya, dia mengatakan, kualitas.

“Kalau saya melihat, kendala usaha pembuatan sepatu ini bukan pendanaan, tapi mutu atau kualitas. Kalau kualitas bagus, modal akan datang sendiri,” katanya baru baru ini.

Itu telah dibuktikannya, minimal dengan tetap mampu mempertahankan produk sepatunya yang bermerek Pinko untuk tetap laku di pasaran. “Ini karena saya tidak mau menurunkan kualitas. Kebanyakan produsen akan menurunkan kualitas begitu mereka kesulitan modal. Tapi saya tidak berani melakukan itu,” ujarnya.

Karena itu, produk sepatunya yang dipasarkan dengan sistem door to door atau titip ke koperasi-koperasi perusahaan seperti Bank Indonesia, Bank Mandiri atau Dekranas, tetap diminati konsumen. “Karena banyak konsumen tahu mana yang berkualitas, walau harganya pasti sedikit lebih tinggi,” ujar pria yang juga menjabat Sekretaris UKM Center Sumut ini.

Dikatakannya, pemesan sepatunya datang sendiri ke rumah sekaligus workshop-nya di Jalan Brigjen Zein Hamid Gg Manggis No. 10 atau ke pameran-pameran yang sering diikutinya. Dalmi tidak memasarkannya melalui distributor karena keuntungannya yang sangat kecil hanya sekitar 5 persen, sementara dengan sistem door to door ini dia bisa mendapatkan 40 sampai 50 persen.

Sejumlah instansi dan perusahaan kini menjadi pelanggannya. Seperti penjahit Chaidir yang mempercayakan sepatu karyawannya ke produk buatan Dalmi, pegawai-pegawai Disperindag bahkan pejabat seperti Kasim Siyo juga menggunakan sepatu buatannya.

“Saya membuka sedikit rahasia tentang produk sepatu yang banyak dipasarkan. Kalau soal kulit,  Indonesia mempunyai produk nomor satu dengan pabrik di Sidoarjo Jawa Timur. Tapi tapaknya yang banyak disesuaikan karena harganya relatif tinggi dan itu merupakan barang impor,”ujarnya.

Kualitas tapak itulah yang sering ‘diutak-atik’ produsen, untuk menyesuaikan ongkos produksinya. “Lalu soal tapak yang lekang, itu bukan karena kualitas lem. Lem yang digunakan semua sama, tapi itu tergantung kualitas kerja,” ujarnya.

Karena tetap mempertahankan mutu bahan serta kualitas kerja, Dalmi berani menjamin sepatu produksinya tidak gampang lekang. Dia menetapkan harga bervariasi tergantung model dan kualitas bahan, dari seratusan ribu hingga ada yang berharga Rp 450 ribu sepasang. “Kalau tempahan khusus, bahkan bisa mencapai harga satu juta rupiah, ” katanya.

Soal produksi, Dalmi mempekerjakan empat orang tenaga terampil dengan produksi rata-rata delapan pasang per hari, tergantung kebutuhan pasar atau pesanan.

Kini, Dalmi berkeinginan ilmunya tersebut bisa diserap generasi muda yang mempunyai minat menjadi usahawan pembuat sepatu. Karena itu, melalui wadah UKM Center dia telah membuat pelatihan, diharapkan setelah itu mereka ikut magang ke produsen sepatu dan setelah mahir bisa mandiri

“Secara SDM, sebenarnya kita sangat bagus. Tapi sayangnya kita kalah di teknologi. Saya harap pemerintah melalui instansi terkait bisa memperhatikan hal ini, agar produsen sepatu kita terbantu dari segi permodalan dan teknologi,” pungkasnya.(WM.02)

Berita Terbaru