by

Laskar Cilik Penjaga Sungai Deli

Wanita Medan. com – Udin terburu-buru menaiki tangga bangunan sanggar belajar, tempat anak-anak yang tinggal di pinggiran Sungai Deli berkumpul setiap sore. Di sanggar itu, Udin dan anak-anak lainnya bisa membaca buku, mendapatkan tambahan ilmu dan pengetahuan dari abang dan kakak sukarelawan sanggar.

Setiap sore, kecuali hari Sabtu dan Minggu, Bang Didi, yang merupakan pembina sanggar bersama kawan-kawan sekampusnya, sudah siap memberikan berbagai tambahan ilmu kepada anak-anak yang tinggal di sekitar pinggiran Sungai Deli. Mereka juga selalu siap membantu anak-anak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan guru di sekolah.

Sanggar belajar itu sudah dua tahun didirikan di tengah pemukiman penduduk pinggiran Sungai Deli. Sebuah bangunan tinggi, beratap seng yang sudah berkarat, berdinding bambu. Jika hari hujan, air hujan bisa masuk ke dalam ruangan sanggar, melalui celah-celah jendela yang terbuka, karena tak berpintu.

Di dalam ruangan sanggar yang tidak terlalu besar, ada lemari kayu buatan Bang Didi bersama kawan-kawannya, sebagai tempat buku dan komik. Di dinding, dekat jendela, bergantung sebuah papan tulis yang digunakan para sukarelawan sanggar untuk menulis bahan pelajaran yang diberikan kepada anak-anak sanggar. Sementara anak-anak sanggar duduk di lantai kayu berlapiskan tikar dari bahan plastik.

Udin memberi salam, saat memasuki ruangan sanggar. “Assalamualikum.”

Bang Didi dan kawannya yang akan memberikan pelajaran kepada anak-anak sanggar sore itu, membalas salam Udin. “Waalaikum salam.”

Udin yang datang terlambat, duduk di barisan belakang. Sore itu, anak-anak sangar cukup ramai yang datang untuk belajar.

“Baiklah, adik-adik. Kita mulai pelajaran sore hari ini. Kita mulai dulu dengan salam khusus kita ya. Ayoooo yang semangat, Sungai Deli…!” Bang Didi berteriak. Lalu Udin dan kawan-kawan menyambut teriakan Bang Didi dengan teriakan pula, “Bersih…!”

Kemudian Bang Didi berteriak lagi, “Sungai Deli…!” Udin dan kawan-kawan menyambut dengan teriakan, “Bukan tong sampah…!”

Ya, itulah salam khusus anak bantaran Sungai Deli yang diajarkan Bang Didi pada Udin bersama kawan-kawannya, sejak sanggar belajar itu didirikan. Sebuah salam yang mengingatkan dan mendidik Udin dan anak-anak pinggiran Sungai Deli agar senantiasa menjaga Sungai Deli selalu bersih, dan jangan sesekali membiarkan Sungai Deli menjadi tong sampah. Maklum, Bang Didi merupakan pegiat komunitas peduli Sungai Deli.

Kawan Bang Didi, yang duduk bersila di samping kiri Bang Didi, tersenyum melihat semangat Bang Didi dan anak-anak bantaran Sungai Deli meneriakkan salam khusus tersebut.

Kawan Bang Didi yang sore itu menjadi sukarelawan untuk mengajar Udin dan anak-anak di sanggar, merupakan mahasiswa Sejarah. Dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, sebelum menyampaikan pelajaran. Namanya, Bang Irfan.

Bang Irfan menceritakan tentang sejarah Sungai Deli, yang baru pertama kalinya didengar Udin. Di usianya yang menginjak  duabelas tahun, dan saat ini duduk di kelas enam Sekolah Dasar, belum pernah sekali pun Udin mendengar orang atau gurunya bercerita tentang sejarah Sungai Deli.

Karena itu, Udin dan kawan-kawannya di ruangan sanggar menjadi sangat serius mendengarkan Bang Irfan bercerita tentang sejarah Sungai Deli. Bagi mereka, Sungai Deli merupakan bagian kehidupan yang sudah melekat dan mereka jalani sejak kecil. Mandi, bermain-main, membantu orang tua membersihkan peralatan dapur setelah selesai digunakan, merupakan kegiatan sehari-hari yang mereka jalani di Sungai Deli.

“Sungai Deli merupakan salah satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan,  penyumbang sumber air terbesar bagi penduduk Kota Medan. Hulu Sungai Deli terletak di dataran tinggi yang berada di antara Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Karo,” kata Bang Irfan, memulai pelajaran.

“Pada masa kerajaan Deli, Sungai Deli menjadi jalur transportasi dalam aktivitas perdagangan. Sungai Deli menjadi urat nadi perdagangan ke daerah lain,” tambah bang Irfan lagi.

Udin terpaku. Ia tak menyangka, ternyata pada masa dulu, Sungai Deli tempatnya sekarang sering bermain bersama kawan-kawan yang tinggal di pemukiman bantaran Sungai Deli, pernah menjadi jalur transportasi perdagangan. “Pastilah dulu banyak kapal yang lalu lalang di Sungai Deli ini,” gumam Udin, bicara pada diri sendiri.

“Adik-adik perlu tahu, di masa dulu, Sungai Deli ini airnya jernih. Banyak ikannya, seperti ikan gabus, ikan lele, udang batu. Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi. Ada yang tahu, kenapa?” tanya Bang Irfan pada Udin dan kawan-kawannya.

“Karena airnya kotor, Bang…,” jawab Udin.

“Betul, adik-adik. Kotor, karena banyak yang membuang sampah ke sungai. Ikannya pada bermatian,” jelas Bang Irfan.

Udin menganggukkan kepalanya. Begitu pula anak-anak yang ada di ruangan sanggar. Semua mengganggukkan kepala.

Di akhir pelajaran yang diberikan Bang Irfan tentang sejarah Sungai Deli, Bang Irfan meminta anak-anak sanggar yang merupakan anak-anak bantaran Sungai Deli, agar ikut membantu menjaga kebersihan Sungai Deli. Kata Bang Irfan, anak-anak sanggar, merupakan laskar cilik penjaga Sungai Deli agar sungai senantiasa dalam kondisi bersih.

Karena waktu sudah hampir memasuki Maghrib, Bang Irfan menutup pertemuan dengan anak-anak sanggar. Sama seperti waktu Bang Didi membuka  pertemuan, saat menutup pertemuan, Bang Irfan juga meneriakkan salam khusus.

“Sungai Deli……!” teriak Bang Irfain, dan disambut anak-anak sanggar dengan teriakan : ”Bersih…!”

“Sungai Deli….!” teriak bang Irfan sekali lagi, kemudian disambut anak-anak sanggar dengan teriakan :”Bukan tong sampah..!”

Udin beserta anak-anak sanggar kemudian menyalami bang Irfan dan Bang Didi, sebelum pergi meninggalkan sanggar.

Langit mulai gelap. Udin menuruni tangga bangunan sanggar yang agak curam. Tangga yang terbuat dari kayu, dengan lebar hanya setengah meter. Jika orang ingin naik dan turun tangga, terpaksa satu-persatu, tidak muat untuk dua orang. Apalagi bagi orang dewasa. Untungnya, Udin dan kawan-kawan sudah terbiasa menaiiki dan menuruni tangga yang agak curam itu.

Anak-anak sanggar ada empat puluh tujuh orang. Anak laki-laki lebih banyak dari anak perempuan. Mereka terdiri dari anak-anak yang sekolah pada pagi hari. Ada yang kelas satu SD, kelas dua hingga kelas enam. Ada juga yang masih TK. Dan tiga orang, sudah duduk di bangku SMP.

Dulu, sebelum sanggar itu ada, banyak anak-anak bantaran Sungai Deli yang sudah kelas empat, tapi belum bisa membaca. Bang Didi bersama kawan-kawannya, relawan sanggar, akhirnya bisa membuat anak yang belum bisa membaca, jadi bisa membaca.

Untuk memberi semangat agar Udin dan anak-anak bantaran Sungai Deli tertarik membaca, Bang Didi bersama kawan-kawannya, menyediakan banyak buku cerita dan komik di sanggar itu. Dengan catatan, buku cerita serta komik yang dibaca, harus diletakkan kembali di tempat rak buku sanggar. Anak-anak sanggar diajarkan untuk disiplin dan bertanggungjawab dengan buku yang dibacanya. Buku harus dijaga jangan sampai koyak.

“Udiiiiin….” suara memanggil namanya, membuat Udin yang baru menginjakkan kaki di tangga dasar sanggar, menghentikan langkah. Kepalanya mendongak ke atas. Rupanya, Fahmi yang memanggilnya. Usia Fahmi sebaya dengan Udin. Mereka juga sekolah di tempat yang sama, dan di kelas yang sama.

“Ada apa, Fahmi?” tanya Udin, setelah Fahmi sampai di dekatnya.

“Ayo, Din, kita berenang di sungai. Belum Maghrib, kan?” ajak Fahmi.

“Sebentar lagi azan Maghrib, Fahmi. Besok saja, ya. Mudah-mudahan besok, belajar di sanggar lebih cepat selesainya,” jawab Udin.

“Diiiiinnn…..!” suara seseorang terdengar pula memanggil Udin. Rupanya Saipul yang baru turun dari tangga bangunan sanggar. Saipul lebih muda setahun dari Udin. Saipul masih kelas lima SD.

“Mau kemana, kalian?” tanya Saipu pada Udin dan Fahmi.

“Ini, Pul. Fahmi mengajak berenang di sungai. Tapi aku bilang jangan, sebentar lagi azan Maghrib,” kata Udin pada Saioul.

“Oiyalah, sebaiknya kita ke mesjid saja. Sebentar lagi azan Magrib. Kita sholat berjamah,” saran Saipul.

“Ayo, aku setuju. Kamu ikut kami, Fahmi?” tanya Udin pada Fahmi.

“Ya..iyalah, mana mungkin aku pergi berenang sendirian di sungai,” jawab Fahmi seraya tertawa. Udin dan Saipul pun ikut tertawa.

Selama dalam perjalanan menuju mesjid yang tidak jauh dari tempat Udin dan kawan-kawan tinggal, tiga sekawan itu membicarakan tentang sejarah Sungai Deli yang diajarkan Bang Irfan.

“Ternyata, sungai kita dulu bagus ya. Airnya jenih, banyak ikannya, dan menjadi tempat lalu lintas kapal untuk kegiatan perdagangan,” ujar Udin masih terkagum-kagum dengan sejarah Sungai Deli masa lalu.

“Iya, aku juga tidak menyangka, Sungai Deli dulu pernah bagus dan hebat,” Fahmi ikut memberi komentar.

“Beda sekali dengan Sungai Deli yang sekarang, ya, kawan-kawan,” sahut Saipul.

“Iyaaaa….” spontan Udin dan Fahmi menjawab.

“Kalau saja Sungai Deli yang sekarang, seperti Sungai Deli yang dulu, airnya jernih, aku mungkin berenang seharian di sungai,” celoteh Saipul.

“Mana bisa, Pul. Kapal banyak yang lewat. Kamu bisa ditabrak kapal, ha..ha..ha..ha…” Udin tertawa geli mendengar celoteh Saipul.

“Iyaaa…ha..ha..ha..ha….” Fahmi ikut tertawa.

Saipul yang menyadari celotehnya membuat kawan-kawannya tertawa lucu, akhirnya ikut tertawa.

Suara azan Maghrib berbunyi, saat tiga sekawan, laskar cilik penjaga Sungai Deli itu, sudah tinggal beberapa langkah lagi memasuki halaman mesjid.

 

*****

 

Hari Minggu. Udin, Fahmi dan Saipul, sudah sepakat  bermain dan berenang di Sungai Deli. Masih sangat pagi, saat ketiganya sudah bersama di pinggiran Sungai Deli. Sekitar pukul tujuh pagi.

Mereka ke sungai melewati rumah Fahmi, yang dapur rumah orang tuanya paling dekat dengan pinggiran sungai. Hanya perlu menuruni tangga dapur, mereka sudah sampai di pinggiran sungai.

Sesekali nampak ibu-ibu yang merupakan warga bantaran sungai, muncul di pinggiran sungai untuk mencuci peralatan rumah tangga. Setelah selesai, kembali ke rumahnya.

“Kawan-kawan, ini ada ban. Kita main di tengah sungai dengan ban, atau tanpa ban,” tanya Fahmi yang sudah tidak sabar ingin bermain di sungai dengan dua sahabatnya itu.

“Kita berenang dulu yok, tanpa ban. Setelah itu, baru pakai ban,” saran Udin.

“Ayoooo….!” sambut Saipul.

Lalu ketiganya menceburkan diri ke Sungai Deli, yang airnya saat itu hanya setinggi bahu mereka. Udin, Fahmi, dan Saipul begitu gembira bisa berenang bersama-sama di Sungai Deli. Sungai yang sejak kecil sudah sangat akrab bagi mereka.

Anak-anak Sungai Deli umumnya pandai berenang. Sejak kecil mereka mandi di sungai, dan menyaksikan orang-orang yang berenang di sungai. Hal itu membuat anak-anak yang belum bisa berenang, jadi terpacu untuk bisa berenang.

Setelah puas berenang, Fahmi mengambil ban yang ada di pinggiran sungai, lalu membawanya ke tengah sungai. Begitu pula dengan Udin dan Saipul. Mereka pun memasukkan kepala dan setengah badannya ke dalam ban, dan meletakkan kedua tangannya pada pinggiran ban. Melemaskan sekujur tubuh, dan membiarkan kedua kaki bergerak-gerak dalam air sungai.

Meski air Sungai Deli sekarang berwarna kekuning-kuningan, tapi anak-anak dan warga pinggiran Sungai Deli, selalu merasa sangat bergembira bisa berenang di sungai itu. Selain berenang, warga setempat menggunakan air Sungai Deli untuk mandi, dan mencuci. Tetapi untuk air minum dan memasak, mereka membeli air isi ulang.

Dibandingkan dengan dua tahun yang lalu, sebelum Bang Didi dan kawan-kawannya datang mendirikan sanggar belajar, saat ini lingkungan dan kondisi Sungai Deli jauh lebih bersih.

Dua tahun yang lalu, lingkungan dan kondisii Sungai Deli tempat Udin bermukim, sangat kotor.  Sampah menumpuk di setiap sudut pemukiman, di pinggiran sungai, dan berserakan di dalam sungai. Air sungai bukan hanya kuning, tapi juga berbau. Jauh berbeda dengan kondisi sekarang, tidak ada lagi sampah yang nampak di dalam sungai. Begitu pula di pinggiran sungai.

Bang Didi bersama kawan-kawannya yang merupakan pegiat komunitas peduli Sungai Deli,  berhasil memberikan penyuluhan dan kesadaran pada warga bantaran Sungai Deli, tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan Sungai Deli.

Pada hari-hari tertentu, Bang Didi bersama kawan-kawannya, dibantu warga, serta anak-anak sanggar, melakukan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar Sungai Deli. Mereka mengutipi sampah yang masih  dibuang orang ke dalam sungai. Lalu membakar sampah-sampah itu setelah kering, di pinggir badan jalan, dekat pemukiman warga.

Pada hari-hari biasa, walau pun bukan hari gotong royong, warga maupun anak-anak pinggiran Sungai Deli, sudah mulai terbiasa mengutipi sampah jika ditemukan di pinggiran sungai atau di dalam sungai. Sampah-sampah itu dikumpulkan di suatu tempat, kemudian dibakar setelah banyak.

“Kawan-kawan, ada sampah, itu….,” tiba-tiba Saipul menunjukkan sebuah plastik hitam, di pinggir sungai. Nampaknya sampah itu, baru saja dibuang orang. Tapi karena asyik berenang dan bersenda-gurau, Udin dan kawan-kawan, tidak mengetahui kapan dan siapa yang sudah membuang sampah di sungai, pagi itu.

Mereka bertiga segera mendekati plastik berisi sampah itu, untuk diambil, kemudian ditaruh di tempat penimbunan sementara, selanjutnya dibakar.

“Tidak mungkin ibu-ibu di sini masih mau membuang sampah,” celetuk Saipul. Dia paling dulu tiba di dekat plastik berisi sampah itu.

“Iya, tidak mungkin,” jawab Udin.

“Pasti bukan warga sini. Mungkin warga luar,” kata Fahmi.

Saat plastik dibuka, isinya berupa sampah rumah tangga. Selain itu, ada juga pecahan gelas kaca.

“Waduh, ini bahaya sekali sampahnya. Ada pecahan kaca. Kalau berserak, pecahan kacanya bisa melukai orang,” teriak Saipul, setelah melihat isi sampah yang ada pecahan gelas kaca.

“Iya, keterlaluan yang buang sampah ini,” ujar Udin merasa jengkel.

“Siapa ya, yang tega buang sampah berbahya seperti ini, di sungai kita?” tanya Fahmi pula.

“Perlu dikasih penyuluhan orang ini,” kata Udin.

“Iya, kawan-kawan. Bang Didi perlu kita kasih tahu, biar dikasih penyuluhan orang ini,” sahut Saipul.

“Tapi kita tidak tahu, siapa orangnya. Bagaimana mau dikasih penyuluhan sama Bang Didi,” kata Fahmi mengingatkan.

Udin dan Saipul terdiam.

Mereka bertiga kemudian membawa plastik berisi sampah itu, ke dekat rumah Fahmi. Memasukkannya ke dalam karung, tempat sampah sementara. Setelah itu, ketiganya duduk di tangga dapur rumah Fahmi.

“Aku masih sangat penasaran, kawan-kawan. Siapa ya orang yang membuang sampah berisi pecahan gelas kaca tadi,” Udin menyampaikan rasa penasarannya.

“Aku juga,” timpal Saiful

“Apalagi aku…,” ujar Fahmi tak mau kalah.

Udin menatap Fahmi dan Saipul dengan wajah serius. “Kalau begitu, kita harus bisa menemukannya. Kita harus menyelidiki, siapa orangnya.”

“Ya…,” kata Fahmi.

“Setuju..,” Saipul menganggukkan kepala.

“Sekarang, masalahnya, bagaimana cara kita menyelidiki dan menemukan orangnya, Din,” tanya Fahmi.

Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sedang berusaha berpikir, dan mencari cara untuk bisa menemukan orang yang sudah membuang sampah ke sungai di pemukiman mereka. Sungai yang sudah dua tahun terakhir ini selalu bersih dari sampah, karena warganya sudah menyadari pentingnya menjaga kebersihan sungai.

“Kita tidak punya alat seperti di perumahan tempat tinggal Joni. Siapa saja yang masuk ke dalam komplek perumah Joni, bisa terekam di alat itu. Apa namanya, Din? Ada tv-nya,” ujar Fahmi. Joni adalah kawan sekelas Fahmi dan Udin. Joni tinggal di komplek perumahan mewah. Fahmi dan Udin pernah diajak Joni mengunjungi rumahnya.

“CCTV. Alat itu namanya CCTV, Fahmi,” jawab Udin.

“Nah, itu dia!. Kalau ada alat itu, kita sudah bisa tahu siapa orang luar yang sudah masuk ke dalam pemukiman kita, dan membuang sampah di sungai kita,” celetuk Fahmi.

Udin masih terdiam. Dia masih belum mendapatkan ide. Begitu pula Saipul.

“Ayooo….laskar cilik penjaga Sungai Deli, kita harus bagaimana?” kembali suara Fahmi memecah kesunyian.

Udin menatap ke arah Fahmi. “Sebentar Fahmi, aku belum tahu cara yang bisa kita lakukan untuk menemukan orang itu!”

“Wooooiiii….anak-anak, ngapain kalian di tangga itu?” suara Ayah Fahmi terdengar dari atas rumah. Kepala Ayah Fahmi melongok ke bawah, dari jendela dapur.

“Kami lagi main-main, Ayah,” sahut Fahmi.

“Fahmiiiiii…, ini ada ubi goreng, barusan dimasak emakmu. Kalau kalian masih betah di tangga itu, kau bawa ubi goreng ini untuk dimakan bersama Udin dan Saipul,” kembali terdengar suara Ayah Fahmi dari jendela dapur.

“Iya, Ayah.” Fahmi segera menaiki tangga, memasuki pintu dapur. Tidak berapa lama, dia sudah turun membawa sepiring goreng ubi.

“Ayo, kawan-kawan, kita makan ubi goreng ini. Mana tahu, setelah makan ubi goreng, kita dapat ide,” ajak Fahmi sambil menyodorkan piring ubi goreng pada Udin dan Saipul.

Harum ubi goreng yang baru dimasak, mengundang selera. Apalagi perut yang sudah terasa lapar, membuat Udin dan Saipul berebutan mengambil ubi goreng di tangan Fahmi.

“Ha…ha…ha…ha…, laskar cilik Sungai Deli pada kelaparan,” Fahmi tertawa geli melihat tingkah Udin dan Saipul berebutan ubi goreng dari tangannya.

Mereka pun menikmati ubi goreng.

“Aduh, aku lupa mengambil air minum. Sebentar ya, kawan-kawan,” Fahmi kembali berlari menaiki tangga dapur rumahnya. Tidak berapa lama, dia sudah menuruni tangga lagi. Membawa tiga cangkir yang terbuat dari plastik, serta teko plastik berisi air putih hangat.

“Ayo….minum. Jangan sampai ubinya nyagkut di tenggorokan,” Fahmi menyodorkan secangkir air putih pada Udin, kemudian pada Saipul. Udin dan Saipul mengambil minuman dari tangan Fahmi.

Meski sepiring ubi goreng sudah habis dicicipi, namun mereka bertiga belum juga bisa mendapatkan ide, bagaimana menemukan orang yang sudah membuang sampah di sungai pagi itu.

Akhirnya Udin pamitan, dan berjanji akan memberitahu Fahmi dan Saipul tentang langkah yang akan mereka lakukan untuk bisa menemukan pembuang sampah misterius tersebut.

Dia harus segera pulang, karena ayah dan ibunya akan pergi ke acara syukuran pernikahan Makcik Latifah. Makcik Latifah adalah adik bungsu ibunya. Kemarin, ibunya sudah mengingatkan Udin agar ikut ke acara syukuran pernikahan Makcik Latifah.

 

*****

Pagi keesokan harinya, Udin dikejutkan dengan panggilan Fahmi dari luar rumah. Udin baru saja selesai membantu ibunya menyapu rumah dan membersihkan peralatan dapur yang digunakan ibunya memasak untuk sarapan pagi, sekaligus makan siang serta makan malam.

Selesai menyiapkan masakan untuk keluarga, Ibu Udin biasanya segera bersiap untuk bekerja menjadi tukang cuci di beberapa tempat. Sedangkan Ayah Udin, harus segera berangkat juga ke tempatnya mengais rezeki, sebagai buruh angkat barang di terminal bus.

Udin dan adik perempuannya, Fatimah yang masih kelas satu SD, sebelum pukul tujuh pagi, sudah berangkat ke sekolah. Udin, Fatimah dan Fahmi, selalu berangkat ke sekolah bersama, karena sekolah mereka sama.

“Ada apa, Fahmi?” tanya Udin dari atas rumahnya. Fahmi yang berada di bawah tangga rumah Udin, tampak sedang gusar.

“Ada sampah lagi di pinggir sungai,” jawab Fahmi.

“Apa? Sampah lagi?” tanya Udin tidak percaya.

“Iya. Ayo kita lihat bersama, supaya kamu percaya.”

“Baiklah. Sebentar ya, aku ngasi tahu emak. Nanti kecarian emak, kalau aku tidak bilang,” ujar Udin sembari masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Udin menuruni tangga rumahnya. Ia sekalian membawa sabun dan sikat gigi. Juga handuk.

“Aku sekalian mau mandi ke sungai, sudah jam enam pagi lewat lima belas menit,” kata Udin.

“Iya, aku juga. Handuk, sabun dan sikat gigi kutinggal di batu pinggir sungai,” celetuk Fahmi.

Keduanya berjalan tergesa menuju sungai. Melewati lorong sempit,  yang hanya muat untuk dilewati satu orang saja. Jika berjalan berdua, bertiga atau ramai-ramai, harus berbaris. Kirii dan kanan lorong sempit itu dilapisi seng. Seng-seng itu, adalah dinding-dinding rumah warga. Lorong sempit itu merupakan satu-satunya jalan bagi warga setempat atau orang luar untuk menuju ke sungai.

“Mana sampahnya?” tanya Udin, setelah sampai di pinggir sungai.

“Itu..!” tunjuk Fahmi ke sebuah plastik hitam besar di pinggiran sungai.

“Apa isinya?” tanya Udin. Ia segera membuka plastik hitam di pinggiran sungai itu. Lagi-lagi isinya sampah rumah tangga.

“Ini pasti sampah orang yang sama. Orang yang buang sampah kemarin, Fahmi,” ujar Udin.

“Iya, sepertinya begitu.”

“Dijadikannya tempat sampah pemukiman dan sungai kita, Fahmi!”

“Iya, Din!”

“Ini betul-betul tidak boleh dibiarkan. Sungai Deli bukan tong sampah!” ujar Udin kesal.

Udin dan Fahmi memang sangat marah.  Bagaimana tidak marah? Warga dan anak-anak bantaran Sungai Deli sudah berusaha untuk menjaga kebersihan pemukiman dan Sungai Deli. Tapi ada pula orang luar yang justru membuang sampah di tempat itu. Sungguh, keterlaluan!

“Bisa letakkan dulu sampah ini di karung sampah rumah kamu, Fahmi?” tanya Udin pada Fahmi.

“Bisa, Din.” Fahmi segera membawa plastik berisi sampah itu ke rumahnya. Tak lama kemudian, dia sudah kembali ke dekat Udin.

“Ayo, kita mandi. Jangan sampai terlambat pergi sekolah,” ajak Udin yang segera berjalan ke arah sungai. Ia meletakkan handuk beserta sabun dan sikat giginya di sebuah batu besar dekat pinggiran sungai. Anak-anak bantaran Sungai Deli memang selalu meletakkan peralatan mandinya di batu besar itu. Lalu mereka akan mandi sepuasnya di sungai.

Selesai mandi, Udin bergegas ke rumahnya. Begitu pula Fahmi. Mereka harus siap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Sebelum sekolah, Udin sarapan dulu bersama adiknya, Fatimah. Pagi itu, seperti biasa, ibu mereka menyediakan nasi putih dengan telur dadar. Udin dan Fatimah memang suka telur dadar. Sesekali, ibu mereka memasak sarapan nasi goreng. Kalau ayahnya lagi banyak rezeki, sesekali mereka bisa membeli sarapan lontong yang dijual Wak Taing, tetangga Udin. Wak Taing menjual sarapan dengan harga yang terjangkau untuk warga pemukiman bantaran Sungai Deli.

“Ayo, Imah, cepat makannya. Sudah hampir jam tujuh,” kata Udin melihat adiknya, Fatimah, masih belum menghabiskan sarapannya.

“Iya, Bang..” kata Fatimah. Dia mengebut makannya.

Terdengar suara Fahmi memanggil dari luar rumah. Udin dan Fatimah segera pamitan pada ibunya. Tinggal ibu mereka yang ada di rumah. Ayah mereka, sudah terlebih dulu pergi bekerja.

Udin, Fatimah dan Fahmi berjalan kaki menuju sekolah mereka. Sekitar sepuluh atau lima belas menit, mereka menghabiskan waktu untuk berjalan kaki ke sekolah.

Setelah pulang sekolah, Udin makan siang dan menyiapkan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan gurunya. Sebenarnya, anak-anak sanggar bisa meminta bantuan abang atau sukarelawan yang mengajar di sanggar, jika kesulitan mengerjakan PR yang diberikan guru di sekolah. Tapi, Udin lebih suka berusaha terlebih dahulu. Jika dia bisa mengerjakan sendiri, Udin tidak mau meminta bantuan sukarelawan sanggar. Tapi kalau tidak bisa dikerjakan sendiri, dia baru meminta bantuan sukarelawan sanggar.

Sorenya, seperti biasa, Udin ke sanggar. Sore itu, sukarelawan yang mengajar di sanggar hanya Kak Lusi. Biasanya, siapa pun sukarelawan yang mengajar, selalu ada Bang Didi yang mendampingi. Kata Kak Lusi, Bang Didi tidak bisa datang ke sanggar karena harus kuliah sore itu.

Padahal Udin ingin sekali bertemu dengan Bang Didi. Udin bersama Fahmi dan Saipul ingin memberitahu Bang Didi tentang pembuang sampah misterius, yang sudah dua hari membuang sampah di pinggiran Sungai Deli.

“Bang Didi tidak datang. Kita harus bagaimana?” tanya Udin pada Fahmi dan Saipul.

Fahmi dan Saipul diam. Keduanya sama sekali tidak menduga, sore itu Bang Didi tidak datang.

“Bagaimana kalau nanti malam kita jebak pembuang sampah itu?” ajak Udin pada Fahmi dan Saipul.

“Jebak?” tanya Fahmi.

“Nanti malam? Kenapa malam? Apa pembuang sampah itu datangnya malam? Bukan pagi subuh, misalnya?” tanya Saipul.

“Ya. Kita buat jebakan. Mudah-mudahan jebakan itu bisa membuatnya kapok,” ujar Udin dengan mimik yakin.

“Nanti malam?” kembali Saipul bertanya.

“Iya, kita coba memantau dan menjebak orang itu malam ini. Kalau dia tidak datang membuang sampah malam hari, berarti dia membuang sampah pagi sebelum subuh,” jawab Udin.

Fahmi dan Saipul menganggukkan kepala.

“Bagimana cara menjebaknya?” tanya Fahmi.

“Iya, apa yang kita lakukan?” tanya Saipul pula.

Udin menyampaikan rencananya. Ia meminta Fahmi dan Saipul mencari tali plastik di dapur rumah masing-masing.

“Tali plastik. Untuk apa? Jangan menjerat leher orang itu, nanti bisa mati dia!” kata Fahmi.

“Bukan untuk menjerat lehernya, Fahmi.” Kata Udin.

“Lalu, untuk apa tali plastik?” tanya Fahmi lagi.

“Begini, kawan-kawan. Kita jebak pembuang sampah misterius itu dengan membuatnya terjatuh, saat berjalan menuju pinggiran sungai,” Udin mulai menjelaskan rencananya.

“Jika dia datang pada malam hari, pasti gelap gulita. Dia tidak akan melihat kalau kita sudah memasang tali perangkap, yang kalau tersangkut di kakinya, akan membuatnya terjatuh. Tali itu kita sangkutkan di antara seng kiri dan seng kanan di jalan lorong sempit yang akan dilewati orang itu. Tapi kita perlu tali plastik yang kuat. Kalau beli, kita tidak punya uang. Sebaiknya kita cari di dapur rumah masing-masing. Biasanya emak kita suka menyimpan tali plastik itu, untuk dipakai kalau diperlukan,” jelas Udin panjang lebar.

Fahmi dan Saipul manggut-manggut.

“Boleh juga, ide kamu, Din,” ujar Fahmi.

“Iya, bisalah kita coba,” kata Saipul.

Mereka pun mencari tali plastik di dapur rumah masing-masing. Udin mendapatkan tali plastik di dapur rumahnya, tapi tali plastik bekas yang sudah tercerai berai. Tidak akan kuat untuk menjebak kaki orang, dan menjatuhkannya jika tersangkut.

Begitu pula Fahmi, sudah letih dia membongkar isi dapur rumahnya, tapi tidak ditemukan tali plastik.

Sementara Saipul, kebetulan bertemu dengan ibunya yang lagi memanaskan sayur di dapur. Saat Saipul bertanya apakah ibunya ada menyimpan tali plastik yang bagus, ibunya sempat bertanya: “Untuk apa?”

“Ada yang mau dibuat bersama Udin dan Fahmi, Mak.” Seperti Udin dan Fahmi, Saipul juga memanggil ibunya dengan panggilan “Emak”. Umumnya, anak-anak bantaran sungai memanggil orang tuanya, ayah dan emak atau bapak dan emak.

“Yah, sudah. Ambil di rak piring bagian bawah,” kata ibunya.

Saipul mencari, dan menemukan satu gulung tali plastik yang masih baru. Ia segera mencari Udin dan Fahmi.

Pukul sebelas malam, mereka bertiga memasang perangkap untuk si pembuang sampah misterius. Mereka menyangkutkan tali plastik pada seng kiri dan kanan, di lorong sempit yang akan dilewati si pembuang sampah.

Dan benar saja. Setengah jam kemudian, terdengar suara seperti orang yang terjatuh. Udin yang sudah berada di kamarnya, terkejut. Begitu pula Fahmi dan Saiful, di rumah mereka.

“Suara apa itu?” ayah Udin yang ikut mendengar, keluar dari kamar. Ibu Udin juga. Warga bantaran Sungai Deli pada berhamburan keluar. Ingin mengetahui apa yang terjadi. Namun mereka tidak menemukan apa pun.

Dini hari, menjelang Subuh, Udin bersama Fahmi dan Saipul bergegas ke tempat mereka membuat jebakan untuk si pembuang sampah misterius. Tali plastik yang mereka pasang untuk jebakan, masih utuh. Tapi di tempat itu berserakan sampah. Tampaknya, kaki si pembuang sampah misterius tersangkut pada tali plastik jebakan yang dibuat Udin dan kawan-kawan. Dia terjatuh, sampah yang dibawanya terjatuh dan berserakan. Karena takut ketahuan warga, dia kemudian melarikan diri.

“Laskar cilik penjaga Sungai Deli, kita berhasil…!. Mudah-mudahan orang itu jadi kapok, dan tidak membuang sampah ke pinggiran sungai kita lagi,” ujar Udin merasa sangat gembira. Ia merangkul bahu kiri Fahmi dan bahu kanan Saipul.

“Horeeee….kita berhasil.” Fahmi berseru kegirangan. Begitu juga Saipul.

Sejak itu, Udin dan kawan-kawan tidak pernah lagi menemukan sampah dibuang di pinggir Sungai Deli, dekat pemukiman mereka.

*****

 

Empat bulan sudah berlalu. Hari ini, warga dan anak-anak bantaran Sungai Deli bergembira dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI. Perayaan yang sangat meriah, dengan berbagai lomba dan pertandingan. Hadiahnya juga sangat banyak dan menarik.

Seperti biasanya, perayaan HUT Kemerdekaan RI yang diadakan warga bantaran Sungai Deli, dilaksanakan di dalam sungai. Ada lomba berenang, lomba baca puisi, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, dan lomba panjat pinang.

Menurut Bang Didi yang menjadi ketua panitia, perayaan HUT Kemerdekaan RI di bantaran Sungai Deli kali ini mendapat banyak sponsor. Dari para donatur tetap dan simpatisan, para pegiat komunitas peduli Sungai Deli, dan juga donatur baru, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari pemukiman bantaran Sungai Deli.

“Namanya Pak Ridwan. Rumahnya tidak jauh dari sini, di dekat salon. Dia baru empat bulan tinggal di situ,” cerita Bang Didi, pada seluruh panitia acara.

“Memangnya, bapak itu nyumbang berapa Di?” tanya Kak Lusi yang ikut menjadi panitia.

“Tiga juta, Lus.”

“Wow….banyak ya..” kata Lusi merasa kagum.

“Baik sekali bapak itu, Di. Mau menyumbang sebesar itu untuk acara kita. Jangan lupa mengundang bapak itu. Kalau perlu, minta dia memberikan kata sambutan, sebelum penyerahan hadiah nanti,” saran panitia yang lain.

“Iya, rencana juga begitu. Kita akan mengundang bapak itu nanti, dan memintanya memberikan kata sambutan,” sahut Bang Didi.

Sungai Deli pun dihiasi dengan pernak-pernik warna merah putih. Semarak sekali. Bendera-bendera kecil terbuat dari kertas minyak berwarna merah putih, berkibar indah ditiup angin. Pohon pinang dengan aneka hadiah di atasnya, sudah terpasang di tengah sungai.

Semua warga berkumpul di pinggiran sungai. Begitu pula para undangan, termasuk Pak Ridwan. Para undangan yang baru sekali itu mengunjungi pemukiman bantaran Sungai Deli nampak terpukau melihat keindahan Sungai Delli dengan pernak-pernik merah putihnya. Kebersihan sungai yang tidak ada sampah sedikit pun.

Lomba pertama yang diadakan adalah lomba berenang untuk anak-anak berusia lima hingga tujuh tahun. Para undangan berdecak kagum, melihat banyak anak bantaran Sungai Deli yang pandai berenang.

Lomba selanjutnya adalah membaca pusi di dalam sungai, kemudian lomba makan krupuk, lomba tarik tambang, dan lomba panjat pinang.

Semua warga dan undangan nampak begitu gembira menyaksikan perlombaan yang dilangsungkan di dalam sungai. Menyaksikan keseruan yang berbeda.

Perlombaan berakhir sore hari. Tibalah acara pemberian hadiah. Sebelum penyerahan hadiah, Bang Didi meminta Pak Ridwan memberikan kata sambutan. Pak Ridwan pun berdiri dari tempat duduknya di pinggir sungai. Ia menuju ke dalam sungai yang kedalaman airnya menyentuh pinggangnya.

Setelah memberikan salam, Pak Ridwan memulai kata sambutannya. “Saya sangat bahagia bisa berada bersama warga bantaran Sungai Deli pada hari ini, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI. Saya sangat bersyukur bisa menikmati segala yang baik, yang ada di pemukiman Sungai Deli ini.”

Sejenak Pak Ridwan terdiam, kemudian melanjutkan lagi. “Saya mengagumi warga di pemukiman ini yang ternyata sangat menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan sungainya. Sama sekali tidak ada sampah yang kelihatan di pinggiran sungai mau pun di dalam sungai. Karena itu, saya berpesan, semoga warga dan anak-anak bantaran sungai di sini, akan tetap seperti itu selamanya.”

Para warga bertepuk tangan mendengar pujian yang disampaikan Pak Ridwan. Teriakan anak-anak sanggar pun bergema dipandu Bang Didi. “Sungai Deli, Bersih…!”, “Sungai Deli, Bukan Tong Sampah!”

Pak Ridwan yang mendengar teriakan anak-anak sanggar itu, kemudian mengacungkan dua jempolnya, tanda kagum.

“Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan untuk bersama merayakan HUT Kemerdekaan RI di bantaran Sungai Deli ini. Ini merupakan impian saya, sejak empat bulan yang lalu, saat menjadi warga baru yang tinggal di dekat pemukiman bapak, ibu dan anak-anak semua. Mohon dimaafkan, jika saya pernah melakukan kesalahan pada bapak-ibu dan anak-anak di sini. Jujur, saya pernah melakukan kesalahan pada warga  di sini, tapi kemudian menyadari dan tidak melakukannya lagi,” suara Pak Ridwan terdengar serak. Warga bantaran Sungai Deli dan para undangan menjadi penasaran dengan pengakuan yang disampaikan Pak Ridwan.

“Bapak, ibu dan anak-anak semua. Jujur saya katakan, dulu pertama kali saya pindah ke sini, saya pernah membuang sampah di pinggir sungai ini. Pada waktu itu, saya belum tahu dimana tempat membuang sampah. Saya juga tidak pernah melihat ada petugas buang sampah yang lewat untuk mengangkut sampah warga. Saya berpikir, mungkin warga membuang sampahnya di pinggir sungai. Tapi akhirnya saya sadar bahwa saya sudah melakukan kesalahan. Saya melihat warga di bantaran sungai ini justru sangat menjaga kebersihan lingkungannya dan sungainya. Sekali lagi, mohon saya dimaafkan untuk kesalahan yang empat bulan lalu pernah saya lakukan di sini. Maukah bapak, ibu dan anak-anak memaafkan saya?” Pak Ridwan bertanya dengan sungguh-sungguh. Penyesalan tersirat di wajahnya.

Warga bantaran Sungai Deli yang mendengarkan permohonan maaf dengan tulus dari Pak Ridwan itu, ramai-ramai menjawab : “Sudah dimaafkan, Pak…”

Sementara Udin, Fahmi dan Saipul terkejut mendengar semua ucapan Pak Ridwan barusan. Mereka baru menyadari, ternyata pembuang sampah misterius yang dulu mereka jebak dengan tali plastik adalah Pak Ridwan.

“Bapak itu rupanya orangnya,” bisik Udin pada Fahmi.

“Iya…” kata Fahmi.

“Syukurlah, bapak itu sudah sadar,” sebut Saipul.

“Kita harus maafkan bapak itu, karena bapak itu sudah berani mengakui kesalahan dan mau minta maaf,” kata Udin.

“Iya..” gumam Fahmi

“Betul,” sahut Saipul.

Setelah mendengarkan warga menyatakan sudah memaafkannya, Pak Ridwan mengucapkan terima kasih. Dia menutup kata sambutannya. Kemudian berjalan ke pinggiran sungai, mendatangi warga, menyalami para warga sambil menyampaikan permohonan maaf.

Bang Didi yang menyaksikan semua itu, tersenyum lega. Sebenarnya, dia sudah tahu tentang Pak Riidwan yang akan menyampaikan permohonan maafnya pada warga bantaran Sungai Deli, di acara perayaan HUT Kemerdekaan RI itu.

Pada waktu Bang Didi mengunjungi rumah Pak Ridwan dua minggu yang lalu, untuk meminta sumbangan, Pak Ridwan sangat terkejut. Pak Ridwan baru tahu kalau Bang Didi merupakan pembina sanggar belajar di pemukiman bantaran Sungai Deli. Apalagi ketika mengetahui, Bang Didi merupakan pengurus komunitas peduli Sungai Deli.

“Warga bantaran Sungai Deli sangat menjaga kebersihan lingkungan pemukimannya dan kebersihan sungainya, Pak,” kata Bang Didi pada Pak Ridwan, saat itu.

Pak Ridwan yang merasa bersalah karena pernah membuang sampah di pinggiran Sungai Deli, kemudian memberikan sumbangan uang untuk kemeriahan acara HUT Kemerdekaan RI di bantaran Sungai Deli.

Bang Didi terkejut menerima uang dalam jumlah yang cukup besar dari Pak Ridwan. Bang Didi merasa heran dan penasaran, mengapa Pak Ridwan menyumbang uang dalam jumlah cukup besar? Rasa penasaran Bang Didi terbaca oleh Pak Ridwan. Kemudian Pak Ridwan menjelaskan kesalahan yang pernah dilakukannya dengan membuang sampah di pinggiran Sungai Deli.

Mendengar pengakuan Pak Ridwan itu, Bang Didi pun menyatakan harapannya agar Pak Ridwan mau menghadiri acara perayaan HUT Kemerdekaan RI yang diadakan oleh warga bantaran Sungai Deli.

“Dengan senang hati, saya akan datang. Sekaligus akan meminta maaf pada warga bantaran Sungai Deli atas kekhilafan yang pernah saya lakukan,” kata Pak Ridwan.

Pak Ridwan akhirnya sudah melaksanakan niat hatinya meminta maaf pada warga bantaran Sungai Deli. Perasaannya merasa lega. Saat menyerahkan hadiah lomba berenang pada anak usia sepuluh sampai duabelas tahun, Pak Ridwan mengelus kepala Udin yang menjadi juara pertama.

“Selamat ya, Nak. Kalian di sini, anak-anak yang hebat,” kata Pak Ridwan.

Udin mencium tangan Pak Ridwan. Hati Udin berkata, Pak Ridwan sebenarnya orang yang baik. Pak Ridwan hanya melakukan kekhilafan, karena ketidaktahuan saja. Tidak tahu bahwa warga bantaran Sungai Deli sekarang bukan seperti dulu lagi. Bahwa warga bantaran Sungai Deli sekarang punya salam khusus yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salam khusus : “Sungai Deli, Bersih…!”, “Sungai Deli, Bukan Tong Sampah!” (Anita Kencana Wati)

-Selesai-

 

Berita Terbaru