Meisyarah

Wanita Medan.com – Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Peribahasa itu sangat  menggambarkan seorang sosok Meisyarah (20). Pengusaha muda, yang mulai merintis karir di bidang kuliner khususnya patisseri (kue) dan bakery (roti).

Lahir sebagai anak pertama pasangan Ir. Rahmadsyah dan Sri Hartati melecut semangat Ara demikian dia biasa dipanggil. Untuk berprofesi sama seperti orangtuanya, pengusaha. Jika kedua orangtuanya sukses  sebagai pengusaha boneka dan permainan anak . Ara memilih bidang lain yang justru sangat diminatinya. Kuliner.

Anehnya hal itu tak pernah terlintas dalam mimpinya apalagi di kehidupan nyata. Cita-citanya sama seperti anak kecil umumnya ingin jadi dokter. Alumni SMAN 2 Medan ini pun mendaftar ke kedokteran USU, sayang tak lulus Ara justru lulus di kedokteran gigi.

Tak sesuai dengan pilihan kedokteran umum, Ara mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan lulus sebagai cadangan. Selama menunggu pengumumaan, Ara menghabiskan waktunya ke Kisaran, disana di menemukan saudaranya berbisnis kuliner khususnya makanan pembuka dan penutup.

Pizza yang lezat banyak peminat

Tertarik dengan aneka kuliner ini, Ara pun mulai mencari tahu lewat internet. Perhatiannya segera tertuju pada satu sekolah memasak yang sangat terkenal di Singapura dan saat ini menjadi satu-satuya sekolah chef paling terkemuka di Asia.

Cita-citanya menjadi dokter akhirnya buyar . Kedua orangtuanya pun mendukung, Ara langsung mendaftarkan diri  di Global Chef Academy At- Sunrice Singapore . Ara tercatat sebagai siswa termuda 16 tahun. Saingannya bukan sebaya bahkan di atas Ara. Bahkan ada yang berumur 25 tahun. Tak butuh lama dia menimba ilmu terutama dari chef-chef profesional di negara singa itu. Ia pun tahu diri dan tak malu  bertanya dan melakukan berbagai macam eksperimen soal masak – memasak.

Alhamdullilah dia langsung dipercaya magang disebuah perusahaan penerbangan yang menyediakan makanan untuk penerbangan dunia. Perusahaan itu Singapore Airport Terminal Services (SATS) yang melayani makanan di pesawat seperti Fly Emerates, Jepang dan negara Eropa lainnya.

 

Aneka roti yang lembut dan enak.

Puas bekerja sambil belajar di SATS, Ara mulai berpikir bagaimana dengan perkembangan dirinya ke depan. Lulus sebagai diploma, Ara pun balik dan mengejar mimpinya di tanah air sebagai patiseri terkenal. Dia pun mulai mempraktekkan keahliannya membuat kue.

Langkah pertama yang ditempuh Ara berbisnis melalui internet. Dibawah nama “Bedok” Ara mulai mengembangkan kue-kue hasil olahannya. Tak disangka peminat pastire dan roti tenyata banyak hingga akhirnya Ara mulai menitipkan kue buatannya ke Toko Balik Kado.

Lihat furniture yang dipakai elegent kan.

Nama Bedok sendiri ternyata tak jauh-jauh dari suku ayahnya Melayu dalam bahasa melayu Bedok itu beduk. Sementara di Singapura Bedok itu nama jalan disana. Kloplah, nama itu menjadi merk dagang pastirenya.

“Semua seperti sudah ada yang atur,” ujar Ara tersenyum mengingat masa-masa perjuangannya  mulai dari menimba ilmu hingga mampu membuka usaha sendiri di Jalan M. Basir 78 A Titi Kuning.

Sebuah rumah bercat putih bergaya klasik menjadi tumpuan harapan Ara ke depan. Di rumah kuenya itu, Ara mampu menyuguhkan 50- 60 varian cake yang menggugah selera. Ada carrot cake…hmmm nikmatnya. Campurannya sama seperti cake umumnya tapi ada tambahan wartel. Satu gigitan saja, enaknya. Manisnya sangat terkontrol. Pokoknya coba aja deh. Baru ketahuan enaknya.

Terus ada cake traditional Sacher Torte. Kalau di hari kemerdekaan RI yang tampil ubi, jagung, dan kacang rebus sebagai makanan istimewa. Nah, kalau di Vienna salah satu kota terindah di Italia sana. Cake ini yang dihadirkan.

Harga untuk loyang berukuran kecil  Rp 250.000,  kalau satu potongnya berapa ya… pikir saja sendiri. Bentuknya seperti brownis tapi rasanya duh… nikmatnya. Uppsss… tapi jangan pikir cake ini seperti cake umumnya yang ada di toko bakery.

Kalau di Bedok-nya  Ara, kue yang disajikan walau pun satu slais atau potong sudah terasa kenyang. Karena kata Ara kalau yang diluar itu banyak porinya. Sedangkan kue Ara padat, kalau dimakan ya kenyang. Yang banyak porinya itu, kalau dimakan angin saja. “Coba kepal, teksturnya pasti berubah dan sedikit,” kata gadis yang memakai kawat gigi ini.

Selain itu ada bolu pisang, deep in chocolate, mexican conchas, pana cotta, tiramisu, brownies, strawberry torte dan almond torte. Selain itu  masih banyak aneka roti  yang harganya mulai dari Rp 5000 s/d Rp 20.00 per bungkus.

Nah, ada lagi keunikkan di Bedok-nya Ara. Pada awalnya Ara tak berniat membuat pizza. Tapi kok itu yang paling banyak ditanya sekaligus banyak pembelinya. Saat  Wanita Medan menyambangi Ara di toko kuenya, pelanggan yang datang juga mengakui pizza buatan Ara enak dan lezat. Ada pizza ayam, keju, sosis dan beberapa lainnya. Harga dibandrol mulai dari Rp 100.000 per loyang karena Ara memakai loyang berukuran besar. Jika dipotong harga per potongnya Rp 8.000.

Di usianya yang masih muda, Ara makin mengasah kemampuannya. Ara berjanji per  2 bulan sekali akan ada resep baru dihasilkannya. Bulan September ini, di saat usia usahanya baru 3 minggu   Ara berhasil menciptakan resep baru dengan nama Focacca sebuah cake dengan campuran jamur di dalamnya. Harga per potongnya Rp 15.000. bayangkan saja nikmatnya, kalau Anda tak ingin cuma berkhayal datang saja karena Ara sudah menjanjikan kue yang dijual, sehat, enak dan  penjualnya  ramah. Apalagi… silahkan nikmati Bedok Ara. (evi)

Loading...