by

Penderita HIV/AIDS “Dibunuh” dengan Stigma Sosial Bukan Karena Penyakitnya

Wanita Medan. com – Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang hanya terdapat dalam tubuh manusia dan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh gagal melawan infeksi.

Aqquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS ) adalah sekumpulan gejala penyakit (Infeksi Oportunistik) yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh, akibat ketularan  virus HIV, sehingga sangat mudah mengalami penyakit lainnya.

Dengan bahasa gampangnya HIV : Pintu gerbang infeksi dan masuknya penyakit dalam tubuh. Jelaskan! Sekarang kenali cara penularannya, darah, air mani, cairan vagina dan cairan dubur. Resiko tertular bila salah satu cairan ini masuk ke tubuh orang lain, langsung pada aliran darah atau akibat hubungan seks tanpa kondom melalui vagina dubur atau ( sangat jarang ) mulut.

“Nah, sudah jelas. Sekarang yang perlu dijauhi penyakitnya bukan orangnya,” tegas Lely Zailani pada workshop setengah hari ” Pemberitaan Perempuan dan HIV” yang merupakan program Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) Citradaya Nita 2019 yang bertema Leadership fellows for Fermale Journalist ,kerjasama FJPI dan XL Axiata di Graha XL Center Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Kamis (23/1-2020).

Aktivis dari Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (Hapsari) ini melanjurkan, dalam kehidupan bermasyarakat HIV lebih dikenal sebagai penyakit sosial. Hal itu yang menjadi stigma bebas di masyarakat. Bagaimana seseorang terjangkit HIV tak menjadi informasi yang penting .”Yang berkembang hanyalah hinaan dan cacian terhadap penderita HIV,” kata Lely .

Padahal, kata Lely penderita tak selalu tahu dari mana dia terjangkit HIV. ” Misalnya seorang ibu rumah tangga biasa, yang tak tahu suaminya tidur dimana dengan siapa, tapi dia yang mengalami penderitaan akibat perbuatan suaminya.

“Perempuan dengan HIV/AIDA (PDHA) mendapat stigma yang lebih berat dibanding laki- laki sebagai pembawa “aib”  dan pendosa. Stigma ini memunculkan praktik diskriminasi, penolakan , pengucilan dari masyakarakat . Akibatnya diskriminasi itu menjauhkan mereka  dari layanan yang dibutuhkan dan kerentanan terhadap mereka yang berpotensi mengidap HiV, ” jelas Lely.

Sigma sosial yang diderita penderita HIV terutama ibu rumah tangga   langsung ” membunuh”  kehidupannya.  Padahal penyakit HIV tidaklah mengerikan seperti penyakit kanker. HIV itu tidak ada apa – apanya yang salah itu tak ada ilmu pengetahuan kita untuk memahaminya,” pungkas Lely.

Yulia Maryani yang menjadi pembicara selanjutnya dari Dinas Kesehatan Sumut juga mengakui, banyak orang yang tau apa itu HIV tapi tak paham bagaimana penularannya. “Sehingga stigma negatif bahwa ODHA harus dihindari dan dikucilkan. Padahal tak seperti itu yang sesungguhnya, ” kata Yulia.

Hal itu juga diakui Ketua FJPI Sumut Lia Anggia Nasution .” Akibat tak adanya ilmu pengetahuan yang cukup mengenai HiV  kita sering menjauhi orang dengan penderita HIV. Padahal tak harus begitu. Untuk itulah jurnalis harus memahami hal tersebut, agar dapat memberitakan HIV yang sebenarnya kepada masyarakat,” kata Anggi.

Hadir disitu Head of Sales Greater XL Axiata Medan Horas Lubis. Dia menyambut baik diselenggarakan workshop tersebut. ” Harapan saya semoga media juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat  sehingga HIV/AIDS bisa tersosialisasi dan penderitanya tak dikucilkan,” katanya.

Piagam penghargaan diserahkan Ketua FJPI Sumut Lia Anggia Nasution kepada Horas Lubis dari XL Axiata Medan didampingi Khairiah Lubis Sekjend FJPI.

Kemudian Afnita Yohana merupakan pendamping HIV/AIDS dari Medan Plus.Dia bercerita tentang kisahnya yang mendampingi perempuan dengan HIV .Dia menyebutkan, perempuan yang kebenyakan ibu rumah tangga itu mampu bertahan dan semangat menjalani hidupnya lantaran anak dan keluarga mendukung.” kata Afni.

Sedangkan Sekjen FJPI Khairiah Lubis lebih kepada sugesti agar jurnalis lebih berempati dalam pemberitaan HIV pada perempuan. ” Jangan lagi pemberitaan fokus pada angka – angka penderita HIV atau orang yang hidup dengan AIDS (ODHA) tapi tawarkanlah solutif tentang apa yang harus dilakukan pemerintah, masyarakar para suami agar ibu rumah tangga teflindungi dari HIV.

Foto bersama dengan peserta workshop.

Perbanyak liputan dari sisi inisiatif suami untuk melindungi istri, perbanyak berita edukatif tentang penularan HIV pada ibu rumah tangga dan perbanyak kisah insfiratif dan optimisme dari ibu yang ODHA yang mampu tetap berjuang sehat,” pungkas Khairiah. ( evi)

 

 

Berita Terbaru