Wanita Medan.com – Matanya masih sembab. Tampak kalau dia baru saja menangis, beberapa jam yang lalu.Berapa lama dia menangis, hanya Allah dan dialah yang tahu. Begitu masuk Jabal Nur ruang pemeriksaan kedatangan calon jamaah haji di Asrama Haji Medan, wajahnya tampak berseri- seri  tak nampak gurat kesedihan di wajahnya.

Wajahnya nampak ikhlas. ” Ya harus ikhlaslah, pengorbanan kita belum seberapa jika mengingat pengorbanan nabi Ibrahim AS,” ujarnya membuka percakapan dengan beberapa wartawan yang mewawancarainya di aula Jabal Nur menunggu pemeriksaan kesehatan, sehari sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci, Minggu (28/7-2019).

Dia Dr. Adi Mansar,SH.M.Hum pengacara muda yang sekarang menjabat Ketua Prodi Notariat Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). “Ga pake Y, bang,” tanya Wanita Medan saat melihat nama aslinya di tas kecil yang tergantung di lehernya. Disitu juga tertera no manifesnya.

“Ga,” ujarnya tersenyum…Selanjutnya terungkaplah kenapa matanya begitu sembab (bengkak). Dia bercerita tentang 3 anaknya yang ditinggalkan . Si sulung duduk dibangku SMA, yang tengah SMP dan yang bungsu duduk di kelas 3 SD.

“Mereka sama uwaknya di rumah,” kata Adi Mansar. Perihal anak inilah ternyata yang membuat Adi sedih. Ya dia dan istrinya Elmaliza SH, MKN harus meninggalkan ketiga buah hati mereka untuk 40 hari lamanya.

“Kami 40 hari disana, pertengahan September kami baru pulang,” ujar Adi. Sejenak Adi terdiam wajah juga sibuk mencari- cari. Sebab sejak pembicaraan ini kami lakukan tak tampak seorang perempuan pun disisinya.

Sehingga wajahnya tampak berkali- kali menoleh ke depan mencari- cari sosok perempuan yang sudah mengkarunianya 3 anak itu. “Dia duduk di depan, nanti ya kita cari,” ujarnya.

Selanjutnya Adi bercerita perihal pelepasan yang dilakukan tetangga rumahnya di Komplek Ben Hill Indah I Tembung . Tetangga juga menasehati Adi untuk sabar dan ikhlas. Seikhlas nabi Ibrahim saat diperintah Allah menyembelih anaknya. Anak yang lahir dimasa tua nabi Ibrahim namun harus disembelih karena perintah dari yang Maha Tinggi. “Kita masih belum ada apa- apanya jika dibandingkan keikhlasan dan kesabaran nabi ibrahim.Sekarang inilah yang saya coba, meninggalkan anak hanya karena Allah Swt.  Saya serahkan semuanya hanya kepada Allah terhadap semua penjagaannya saya percaya pada Allah,” kata Adi juga hampir meneteskan air mata lagi,

Keikhlasan hati akhirnya terlihat di wajahnya yang teduh, meski tampak gurat kelelahan disana. Dia juga bicara soal saf da!am melaksanakan ibadah haji. Seperti sehat fisik, mental, niat juga kekuatan dana yang mendukung.

Yang oleh Adi lebih disederhanakan dengan istilah nisab.” Bila nisabnya tiba yang musti diikhlaskan.Yang pergi cukup yang ditinggalkan cukup,selanjutnya biarkan Allah mengaturnya, maka yang muncul sabar dan ikhlas tadi,” kata Adi berfilosofis terutama dalam dirinya sendiri yang kini harus meninggalkan anak- anaknya.

Dengan keikhlasan itu, doa yang dipanjatkan jadi sangat sederhana.”Ya Allah jagalah aku dan keluargaku, ampunilah dosaku, terimalah amal ibadahku dan jadikanlah aku insanMu yang tawaduk,”

Hanya itu doa yang ingin dipanjatkan Adi Mansar di rumah Allah nanti. ” Ya mau apa lagi, semua aku sudah punya. Aku hanya ingin hati yang tawaduk saja,” ujarnya lagi.

Hal itu memang tercermin dari perbuatannya, dia rela jadi ketua regu dari kelompok bimbingan ibadah haji Roudatul Solihin (RS) Sebanyak 246 jaamah Roudatul Solihin jadi tanggungjawabnya. Selain petugas yang sudah disiapkan pemerintah.

Tak heran sejak masuk aula penerimaan dia terus menjalin komunikasi dengan anggotan RS yang lain termasuk memberikan pita kepada  calon jemaah untuk di sematkan di koper masing – masing sesuai permintaan jamaah. Hal itu dilakukan untuk mempermudah identifikasi bawaan atau koper masing- masing.

Simpel, kan sesimpel keinginannya untuk membawa anak dan istri menunaikan ibadah haji bersama. Sayang keinginannya baru terwujud 16 tahun mendatang.

. Ya sudah ditunggu saja, disaat usia menua ibadah mungkin lebih manis rasanya. Semoga . (evi)

Loading...