wanitamedan.com- Memperingati Hari Perempuan Sedunia,Jumat(8/3/2019) Wanita Penulis Indonesia (WPI) Sumatera Utara,diketuai Dra,Anita Kencanawati, Sekretaris Anum Saskia dan Bendahara,Elviani Tanjung  menggelar diskusi berkaitan perlunya mempopulerkan kembali para penulisn perempuan di Sumatera Utara. Kegiatan bersama Penasehat WPI,Hj Kemalawati,SH, bersama Penggiat membaca dan menulis, Jumiati dan Siti Aisyah Pohan yang juga guru TK Atikah Tj Morawa dengan Kepala Sekolah Puteri Atikah, kegiatan berlangsung Jumat(8/3/2019).

Ketua WPI Sumut, Anita Kencanawati menyebutkan, cukup prihatin karena penulis perempuan sumut di masa lampau belum  terpublikasi nama dan karyanya di media.
“Contohnya ketika kita mencari nama penulis perempuan sumut masa lampau di google, tidak bisa kita dapatkan. Sementara penulis laki2 bisa didapatkan berikut nama karya tulisnya. Padahal penulis perempuan pasti juga ada di masa lampau” kata Anita.
Penasehat WPI,Hj Kemalawati SH,menyebutkan, upaya untuk mempopulerkan penulis perempuan sebagai bentuk memotivasi para penulis untuk lebih aktif menulis. Kemudian karya-kayanya juga dibaca masyarakat Indonesia. Demikian juga dengan pokok pikiran yang ada dalam karya tulis mereka, termasuk tulisan fiksi maupun non fiksi.
Penulis ibu rumah tangga yang juga dosen, kata Kemalawati, seperti almarhumah Hj Naya Miraza yang menulis beragam aspek kehidupan dan memberikan solusi. Adalah penulis yang perlu dipopulerkan karena karya tulisnya yang bisa memberi perubahan dalam aspek kehidupan.

“Maka, dengan upaya menginventarisasi para penulis,terutama di Sumut, diharapkan akan bangkit penulis-penulis baru di Sumut yang berdampak pada minat baca secara menyeluruh dalam masyarakat kita,”kata Kemalawati.

Dia juga mengingatkan penulis seperti,Suwarsih Djojopuspito‬.Wanita hebat yang satu ini merupakan salah satu penulis Indonesia yang merasakan masa penjajahan di Indonesia. Dalam berkarya, ia menulis dalam tiga bahasa yakni Sunda, Belanda dan Indonesia.‬
Semasa hidupnya, Suwarsih telah melahirkan sembilan buah buku yang tak hanya terbit di Indonesia, tapi juga di negeri Belanda. Karyanya yang paling terkenal adalah buku berjudul “Manusia Bebas”, yang dalam bahasa Belanda menjadi “Buitenj het Gareel”.‬
N.H Dini‬,terlahir dengan nama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, penulis feminis ini telah menghasilkan puluhan buku dan beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.‬ Beberapa karyanya yang terkenal di antaranya ‘Pada Sebuah Kapal’ (1972), ‘La Barka’ (1975) atau ‘Namaku Hiroko’ (1977), ‘Pertemuan Dua Hati’ (1986) dan masih banyak lagi. Di panggung internasional, N.H Dini dianugerahi berbagai penghargaan, salah satunya adalah SEA Write Award di bidang sastra.‬

Penggiat membaca dan menulis Jumiati dan Siti Aisyah Pohan yang juga guru TK Atikah Tj Morawa memaparkan, pihaknya juga sedang menggiatkan kedekatan orang tua dan anak dalam membaca buku. Harapan kedepan, kata mereka agar anak orang tua juga termotivasi untuk menulis tentang anak-anaknya.

“Sekarang orang tua sudah digiatkan mendengarkan anaknya membaca buku, setelah ini akan kita ajak orang tua menulis tentang anaknya. Membaca dan menulis memberikan asupan rohani agar generasi masa depan.(wm01)

Loading...