kue modifikasi

Wanita Medan .com – Pernah lihat kue aneka warna, bentuk dan rasanya. Tapi bukan berasal dari rumah kue lho. Kue ini berasal dari sekolah dan yang membuat tentu anak sekolah juga.

Kalau soal bentuk, standard lah dengan kue tradisional lainnya. Soal warna itu dia! Wana coklat, putih dan merah agak dominan. Maklum saja, kue tradisional yang dimodifikasi ini buatan anak kelas 3 SMA 1 Batang Kuis, sudah tentu warna dan bahan kue yang dipergunakan juga sesuai dengan selera anak muda, seperti mises dan keju.

Jadilah serabi yang biasanya dimakan pakai kuah, namun ditangan anak  SMA 1 Batang Kuis serabi bisa dimakan dengan keju dan mises yang berwarna coklat dan merah-merah itu. Soal rasa, lumayan sama dengan yang dimakan pakai kuah.

Sejak kapan sih anak SMA buat kue? (biasanya kan anak SMK). Pertanyaan tersebut juga terlintas di kepala Wanita Medan.com saat menyambangi sekolah ini, Senin (17/12/2018). Namun, sejak mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan masuk SMA, urusan masak- memasak tak menjadi hak anak SMK sepenuhnya.

“Karena anak SMA juga perlu diajarkan kewirausahaan . Itu intinya,” kata Santi Iriani guru pembimbing bidang kewirausahaan SMA 1 Batang Kuis ini.

Ketua WPI memperagakan kue modifikasi

Soal kewirausahaan inilah yang menjadi tolak pangkal mengapa anak SMA belajar memasak. “Karena dengan membuat kue atau makanan lainnya, anak-anak terpancing untuk mengembangkannya menjadi usaha. Tentu saja dengan teknik maupun modal yang disesuaikan dengan kemampuan mereka,” jelas Santi.

Tak heran kue tradisional seperti serabi keju, tempe coklat, martabak telur, klepon dan pisang coklat dapat dihasilkan dengan aneka bentuk dan rasa yang berbeda. Dari kue modifikasi tersebut tentu mengugah selera orang untuk menikmati. Dari sekedar menikmati tentu menimbulkan keinginan untuk membeli. Disinilah muncul jiwa – jiwa kewirausahaan tersebut. Hal itu pernah ditunjukkan anak SMA 1 Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang saat ada acara di sekolah. Kue tradisional modifikasi ini laris manis sehingga menimbulkan ketagihan untuk memproduksi lagi. Inilah yang Gold yang hendak dituju sebenarnya. Menjadikan siswa berjiwa usaha. (evi)

Loading...