Para orangtua yangmembeli perlengkapan sekolah anaknya di pasar tradisional.

Wanita Medan.com – Menjelang tahun ajaran baru Senin (15/7- 2019) minat para orangtua membeli perlengkapan sekolah putra- putrinya tampak biasa saja. Pemandangan itu tampak di pasar tradisional maupun mal.

Seperti terlihat di pasar tradisional Simpang Limun Medan, Kamis (11/7-2019). Para orangtua hanya beberapa orang saja tampak membeli perlengkapan sekolah seperti buku, pinsil, rautan, kotak pinsil, tas hingga sampul buku. Tak nampak kerumunan yang berarti.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Posma Nainggolan penjual buku tulis di Simpang Limun, dia mengatakan, memang seperti itulah setiap harinya. Pembeli datang, seorang dua orang. “Kami tak sampai kewalahan melayaninya karena memang pembelinya sedikit,” kata Posma.

Dia mengaku, sejak dirinya menjual perlengkapan sekolah pembeli memang tak banyak. “Ya tapi tetap adalah,” ujarnya.

Posma tak bisa menebak mengapa antusias pembeli perlengkapan sekolah tampak sepi. “Mungkin saja, buku tahun kemarin masih bisa dipakai. Apalagi tas,” ujarnya.

Kata Posma sebenarnya dirinya dan kakaknya tak menjual perlengkapan sekolah secara spesifik. ” Kami hanya melihat moment saja, kalau mau sekolah seperti ini kami jual buku dan peralatan lainnya. Sedangkan lebaran kemarin, kami jual bunga hias. Tergantung momentlah,” ujar Posma.

Tampak di tokonya yang tak seberapa luas itu, Posma menjual beberapa keperluan sekolah, ada buku, sampul buku, penghapus, dan tas. Untuk buku tergantung isi buku, isi 50 lembar 10 buku dijual Rp 35.000, isi 100 lembar Rp 50 000, begitu sampai seterusnya buku panjang dihargai Rp 100.000 sebanyak 10 buku. Sedangkan untuk tas mulai dari Rp 50 000 hingga Rp 200.000 tergantung kualitas dan bahannya.

Kata Posma untuk keperluan sekolah semua harga standar . “Kami tak banyak ambil untung karena buku ini sama saja harganya dimana di pasar manapun,” kata Posma.

Nah, menurut Yuni salah seorang ibu rumah tangga yang sempat ditemui Wanita Medan, justru mengatakan, kebutuhan sekolah anaknya terutama yang masuk TK sejak jauh hari dilengkapinya.

“Ya saat lebaran itu sekalian dibeli,” ujarnya seraya menambahkan jika anaknya yang duduk di kelas 2 dan 4 justru usai lebaran dengan memakai uang mereka sendiri. O begitu, bagus ya Wanita, jadi orang tua tak direpotkan lagi menyediakan budget khusus cukup THR anak-anak saja.

Berbeda dengan pasar tradisional, di mal-mal sekelas Ramayana, Irianbarat dan Suzuya dan Yuki justru sepi peminat. Di Ramayana Teladan tak ada sama sekali orang membeli buku, tas apalagi sepatu untuk keperluan sekolah. Meski management sudah memberikan tempat khusus bagi keperluan sekolah, tetap saja tak ada minat orang membelinya.

Nah buku ini dijual di mal

Seorang ibu yang kebetulan melihat harga buku menyebutkan, ” ah nanti sajalah, stok buku anak-anak masih ada di rumah,” ujarnya. Untuk harga nampak sedikit lebih mahal dari pasar tradisional, meski tak signifikan sekali.

Masalah stok, ini juga jadi fenomena tersendiri, karena biasanya keluarga mempunyai stok untuk keperluan sekolah anaknya. Minimal buku, pulpen, penghapus dan pinsil sudah ada persediaannya. Karena bahan seperti itu, memang dibutuhkan anak kalau sudah bersekolah.

“Kita sebagai orang tua juga harus siap-siap.Karena setiap pagi ada saja yang direcokin anak. Makanya persediaan buku dll harus ada di rumah,” kata perempuan berhijab yang mengaku bernama Nadia itu. (evi)

Loading...